PENCEGAHAN PENULARAN TBC MELALUI SOSIALISASI


Meski belum pernah dilakukan pemeriksaan secara khusus, kecurigaan adanya warga desa Dringo, kecamatan Todanan, kabupaten  Blora yang menderita penyakit TBC mulai muncul. Hal ini dikarenakan adanya warga yang batuk-batuk lebih dari 2-3 minggu. Meski belum dinyatakan positif TB, namun kewaspadaan terhadap adanya penularan penyakit TBC tetap diperlukan.

Sebagai upaya awal, Organisasi Peduli Masyarakat (OPM) desa Dringo bekerjasama dengan UPKM/CD RS Bethesda Wilayah Jawa Tengah pada tanggal 27 November 2010 lalu mengadakan Sosialisasi tentang Penyakit TBC kepada masyarakat.

Kegiatan yang dilaksanakan di Balai Desa Dringo ini diikuti 50 peserta terdiri dari unsur tokoh masyarakat, pemuda, kader posyandu, perangkat desa, bidan desa, remaja putri dan pelajar MTs Hidayatussubban.

Sukendri, selaku AM Jawa Tengah dalam sambutanya mengatakan, kegiatan sosialisasi ini penting dilakukan mengingat TBC adalah salah satu jenis penyakit yang berbahaya. Penyakit menular ini merupakan penyakit penyebab kematian ke 3 di Indonesia setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan.

“Indonesia adalah Negara dengan jumlah penderita TBC terbesar ke-3 di dunia setelah India dan Cina,“ ungkapnya. “Data ini memberikan gambaran bahwa Indonesia masih memiliki resiko cukup tinggi untuk penyakit TBC,” lanjutnya.

Faktor resiko yang masih tinggi itu, pada umumnya dilatarbelakangi minimnya pengetahuan masyarakat tentang seluk beluk penyakit TBC. Sebagian besar mereka belum bisa membedakan antara penyakit TBC dan bukan. “Ironinya, masyarakat sering menyamakan semua jenis penyakit batuk,” tambahnya.

Beberapa fakta tentang TBC menyebutkan, hampir tidak ada satupun negara di dunia yang bebas dari penyakit TBC. Hal ini terbukti dengan data WHO tahun 2005 menyebutkan, sedikitnya sepertiga penduduk dunia saat ini telah terinfeksi kuman TB dan dalam satu detik terdapat satu orang yang terinfeksi TB. Dalam satu tahun, jumlah seluruh pasien TB di dunia sekitar 8,81 juta dengan 3,897 juta diantaranya adalah TB  menular. Setiap tahunnya sekitar 1,747 juta orang meninggal akibat TBC.

Dari kasus yang pernah muncul, seseorang yang mengidap TBC dan akhirnya meninggal, seringkali disebabkan kurangnya  pengertian  tentang penyakit TBC. “Mereka menganggap penyakit yang dideritanya adalah penyakit batuk biasa, bukan TBC,” jelasnya.

Ketidaktahuan mereka terhadap TBC ini juga melahirkan sikap yang keliru. Salah satu contoh, jika mereka terserang batuk, mereka tidak berinisiatif memeriksakan diri ke petugas kesehatan, sampai akhirnya, kondisi penyakitnya semakin parah. Contoh yang lain adalah perilaku kurang perhatian terhadap faktor-faktor penyebab yang dapat menimbulkan penyakit mematikan itu.

Bertolak dari kondisi itulah, UPKM/CD RS Bethesda menempatkan kegiatan sosialisasi TBC sebagai salah satu bagian penting dalam upaya penanggulangan penyakit TBC. Hadir sebagai narasumber yaitu Khoirul Malik, staf P2M Puskesmas Todanan, kabupaten Blora.

Dalam penjelasannya, narasumber meminta masyarakat agar mengenali seluk beluk penyakit TBC. Pengenalan penyakit merupakan langkah awal untuk dapat membuat tindakan yang tepat dalam mengantisiapsi berkembangnya penyakit TBC.

Lebih lanjut, Malik menjelaskan tentang TBC sebagai jenis penyakit yang sangat mudah menular. Penyakit ini disebabkan kuman atau baksil mycobacterium tuberculosis. “Proses penularanya melalui udara,” jelasnya.

“Jika ada penderita TBC yang berbicara, meludah, batuk atau bersin, maka kuman TBC yang berada di dalam paru-paru akan ikut keluar dalam percikan dahak melalui udara. Dan bila percikan kuman itu dihirup orang lain, kemungkinan bisa tertular,” paparnya lebih lanjut.

Malik juga menjelaskan secara gamblang bahwa tidak semua batuk adalah TBC. Ada tanda-tanda penyakit TBC yang perlu diwaspadai, antara lain batuk berdahak 3 minggu atau lebih, dahak yang keluar kemungkinan bercampur darah, serta nafas terasa sesak dan dada tersa nyeri. Selain itu, penderita mengalami demam lebih dari sebulan, berkeringat di malam hari walaupun tidak melakukan aktivitas apapun, selera makan berkurang, dan berat badan menurun.

Guna mengantisipasi berkembangnya penularan penyakit TBC ini, ada beberapa tindakan yang mesti dilakukan, diantaranya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat seperti tidak merokok, tidak meminum minuman yang berakohol, serta menjemur tikar dan kasur secara teratur. Ventilasi udara di rumah sebaiknya juga cukup dengan membuka jendela dan korden. Selain itu, perlu meningkatkan kebersihan lingkungan dan sanitasi.

Di ujung penjelasanya, Malik berpesan, jika ada warga masyarakat yang memiliki tanda-tanda dan gejala-gejala tersebut, supaya segera periksakan ke Puskesmas atau BP4 atau PKD setempat.

“Setelah diperiksa dokter dan dinyatakan positif TBC maka akan diberikan obat gratis tanpa dipungut biaya sepersen pun,” katanya.

Melalui sosialisasi diharapkan masyarakat, khususnya warga desa Dringo dapat memahami dan mengenali apa itu penyakit TBC dan cara penanggulanya. Disamping itu, masyarakat tidak boleh lengah atau kehilangan kewaspadaan. Sebab sebagaimana penyakit yang lain, munculnya TBC tidak bisa disepelekan.

Penularan penyakit TBC harus dicegah, diantisipasi, serta diberantas sebagaimana penyakit – penyakit yang lainya untuk mewujudkan cita-cita komunitas sehat di desa Dringo dan sekitarnya. (Musyafa’/ORA OPM)

About these ads

Posted on 3 April 2011, in Penanggulangan Penyakit Menular. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: