KENALI DENGAN INFORMASI OBATI DENGAN PEDULI


Kusta/lepra atau penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae ini memang sudah tak asing ditelinga masyarakat umum karena menurut sejarah penyakit ini banyak mewabah dimasyarakat pada jaman penjajahan.

Seiring berjalannya waktu ada beberapa masyarakat menganggap bahwa penyakit ini sudah tidak ada lagi, namun sebenarnya penyakit ini masih banyak terjadi, sehingga masyarakat harus menjaga kebersihan dan dituntut untuk mengetahui informasi tentang kusta terutama gejala awal.

Gejala awal kusta memang agak mirip dengan penyakit kulit biasa yakni timbul berak kemerahan atau putih seperti panu, hanya saja yang membedakan kelainan kulit ini biasanya tidak gatal, tidak sakit dan cenderung mati rasa.

Karena gejala awal yang mirip penyakit kulit biasa, menyebabkan banyak kasus kusta baru diketahui oleh masyarakat kalau sudah masuk ketahap lanjut.

Seperti kasus yang dialami Sudir (40), dia adalah penderita kusta pertama yang ditemukan di Desa Wotan Sukolilo Pati,  awalnya dia dan masyarakat sekitar menganggap bahwa itu hanya penyakit gatal-gatal atau kadas biasa. Namun, karena tak kunjung sembuh dia memeriksakan diri ke bidan desa, setelah dianalisa  ternyata penyakitnya adalah positif kusta.

Karena sebelumnya dianggap penyakit kulit biasa sehingga tidak pernah mendapat pengobatan khusus, sehingga menular kepada orang lain.

Jumlah penderita penyakit kusta di Wotan sampai saat ini menjadi 9 orang, dengan kata lain desa Wotan menempati urutan pertama di Kecamatan Sukolilo dalam hal penyakit kusta, tentunya bukan peringkat yang membanggakan bagi warga Wotan.

Menurut data Puskesmas Sukolilo sejak 1998 hanya ditemukan 1 kasus namun, pada 2011 ini Wotan sudah menambah  8 kasus. “Baru 9 saja yang terdeteksi, belum yang tidak terdeteksi oleh petugas kesehatan”, kata Sukari menjelaskan”. Dari sembilan Kasus 3 orang sudah sembuh, 3 orang masih reaksi dan 3 orang lainnya menjalani pengobatan rutin.

Melihat fenomena ini, warga masyarakat Desa Wotan merasa khawatir, dan mulai berfikir bahwa penyakit ini harus segera ditanggulangi jangan sampai merembet ke warga lain, “ucap Suharjono sembari memotivasi masyarakat lainnya”. Hal ini disambut baik oleh masyarakat untuk melakukan pencegahan dengan cara memberi informasi.

23/4/11, Organisasi Rakyat AKUR bekerjasama dengan pemerintah Desa Wotan bekerjasama dengan UPKM/CD RS Bethesda Jawa Tengah, mengadakan penyuluhan penyakit kusta.

Kegiatan preventif  ini diadakan di Balai Desa Wotan yang diikuti lebih dari 50 orang terdiri dari pemerintah desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, termasuk penderita kusta itu sendiri.

Rasa haus informasi yang dirasakan peserta dilampiaskan pada narasumber Joko Winarno dari rumah sakit Kusta  Donorojo Jepara Jawa Tengah dan Puskesmas Sukolilo tentunya.

Sosialisasi yang bertujuan transfer informasi tentang kesehatan terutama kusta baik tentang gejala, pengobatan, pencegahan dan fasilitas yang disediakan pemerintah digelar pula di Desa Dringo  Todanan Blora oleh Organisasi Peduli Masyarakat (OPM) pada 29/4/11.

OPM menggelar kegiatan ini atas dasar terjadinya 2 kasus kusta di Dringo, dari kedua kasus tersebut salah satu penderita (SI) tidak mau melanjutkan pengobatannya.

Menurut Sholeh selaku  ambulan desa “awalnya dia itu mau menjalani pengobatan di Puskesmas”, tapi sekarang dia tidak mau lagi melanjutkan pengobatan itu, walaupun penyakitnya belum sembuh”, katanya melanjutkan.

Ketika dikonfirmasi, SI membenarkan yang dikatakan Soleh. Ditanya soal sikapnya itu, dirinya mengatakan ketakutannya untuk melanjutkan pengobatan. “setelah minum obat berkali-kali justru penyakit ini semakin menjadi-jadi”, kata pria yang tidak tamat SD itu.

Merasa tidak mampu lagi membujuk SI, Soleh bersama teman-teman ORA OPM bekerjasama dengan UPKM/CD RS Bethesda wilayah Jateng mengadakan penyuluhan kusta. Ia berharap dengan adanya penyuluhan, masyarakat, khususnya SI mendapat pemahaman yang benar dan utuh tentang penyakit kusta.

Acara yang mengambil lokasi di balai desa Dringo menghadirkan narasumber dari rumah sakit Kusta  Donorojo Jepara. dan dihadiri Staf UPKM/CD RS Bethesda Jateng  yang juga memberi sambutan.

Dalam sambutannya Anang mengatakan, “menangani penderita suatu penyakit tidak cukup hanya diserahkan kepada satu pihak saja, misalnya hanya bidan desa saja, melainkan memerlukan keterlibatan berbagai pihak, seperti tetangga, saudara dan kerabat, petugas Puskesmas, juga termasuk pengurus ORA tidak boleh ketinggalan”.

Sementara Joko Winarno dalam pembukaan materinya menuturkan, “tidak menutup kemungkinan keterlibatan penguasa juga diperlukan untuk kesuksesan penanganan pasien kusta”. Ia mencontohkan kasus yang terjadi pada SI, jika kesulitan yang dialami cukup berat, seyogyanya penguasa perlu turun tangan.

Dibagian lain, Winarno mengatakan penyakit kusta adalah sejenis penyakit menular menahun yang disebabkan oleh bakteri yang menyerang kulit, saraf tepi, dan jaringan tubuh lainnya. Kusta juga bukan penyakit keturunan, guna-guna atau disebabkan oleh makanan.

Ada 2 jenis penyakit kusta yaitu; kusta basah (multi basiler) dan kusta kering (pausi basiler).

Awalnya penderita tidak merasa terganggu, namun bila dibiarkan pada stadium lanjut dan belum mendapat pengobatan mengakibatkan cacat fisik, misalnya kelopak mata tidak dapat menutup rapat, mati rasa pada telapak tangan dan kaki, kelumpuhan pergelangan tangan dan jari, jari tangan kaki  keriting.

Penularan kusta terjadi dari penderita yang tidak diobati pada orang lain melalui pernafasan atau kontak kulit yang lama. Tidak semua orang dapat tertular penyakit kusta, hanya sebagian kecil saja + 5%.

Orang yang sudah tertular kusta pun sebagian besar dapat sembuh sendiri, jadi dapat dikatakan bahwa kusta adalah penyakit menular yang sulit menular.

Factor kurang gizi juga di duga merupakan factor penyebab. Menurut penelitian pada 100 orang terpapar, 95 orang tetap sehat, 3 orang sembuh sendiri tanpa diobati, 2 orang yang terkena kusta.

Kelompok yang berisiko tinggi terkena kusta adalah di daerah endemic dengan kondisi yang buruk seperti tempat tidur yang tidak memadai, air yang tidak bersih, asupan gizi yang buruk, dan adanya penyertaan penyakit lain seperti HIV yang dapat menekan system imun. Pria memiliki tingkat resiko kusta 2 kali dari wanita.

Yang jelas kusta dapat di sembuhkan, jadi jangan kawatir dan jangan di asingkan bila ada warga yang menderita penyakit kusta. (Musyafak/OPM& Sudiman /Red)

MERENUNG, BERFIKIR DAN BERTINDAK


Suasana gelap dan udara dingin menyelimuti pendopo rumah dinas Wakil Bupati Kudus pada Rabu (18/5/2011), itulah suasana yang sengaja dibangun oleh panitia Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN) 2011 yang digelar oleh Pusat Informasi  Kesehatan Masyarakat (PIKM).

Kegiatan yang rutin diadakan tiap tahun tersebut bertujuan untuk mengkampanyekan penanggulangan HIV-AIDS sekaligus menggugah kesadaran masyarakat maupun komponen lain agar lebih peduli dengan kasus yang tiap tahun terus meningkat tersebut, selain itu stigma dan diskriminasi yang masih banyak terjadi dimasyarakat agar bisa dikikis oleh para peserta yang hadir pada kegiatan renungan tersebut.

Kondisi  jalan becek karena guyuran hujan sore harinya, tidak menyurutkan antusiasme peserta untuk hadir dan mengikuti acara tersebut. Satu persatu peserta datang dari berbagai elemen masyarakat. Mulai dari pelajar, instansi pemerintah, mahasiswa, organisasi kepemudaan, LSM, waria, guru dan beberapa komunitas yang ada dikudus diantaranya pecinta motor vespa. Kehadiran peserta yang jumlahnya diluar prediksi menambah kuat semangat panitia penyelenggara,

Acara yang dimulai sekitar pukul 08.15 WIB diawali dengan petikan gitar akustis dari teman-teman Seni Kampus (SEKAM) Universitas Muria Kudus (UMK), dua lagu akustik yang berisi dukungan buat ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS) mampu menghipnotis peserta dalam suasana hening.

Dalam  keheningan acara disambung puisi yang seakan menghentak hati persembahan Triana dari IWAKU (Ikatan Waria Kudus) yang bercerita tentang kisah seorang pengidap HIV-AIDS karena pergaulan yang bebas serta proses bagaimana ia mulai terjangkit, kemudian hidup bergantung dengan ARV (obat untuk menjaga daya tahan tubuh untuk penderta HIV), dalam puisi tersebut juga bercerita bahwa derita yang sebenarnya bukanlah inveksi yang dialami namun diskriminasi dan perlakuan tidak adil dari masyarakat kepadanya yang mengantarnya pada kematian.

Alunan musik tata lampu mengantar aksi teatrikal yang memadukan gerak, suara, tari, body painting yang menggambarkan kisah gemerlapnya pergaulan yang bebas yang setiap saat mengundang resiko, baik dari sisi sosial, ekonomi maupun kesehatan. Selain itu aksi teatrikal juga menggambarkan kehidupan masyarakat sekarang yang terkesan glamor dan menganggap hal negatif misalnya seks bebas dan narkoba merupakan bagian trend dan gaya hidup modern, sehingga tanpa mereka sadari kesehatan dan masa depan mereka mulai terancam dari konsumsi narkoba, minuman keras hingga seks yang berisiko. Dengan gaya hidup seperti itu tanpa mereka sadari HIV bersarang dalam tubuh dan ahirnya adalah penderitaan penderitaan panjang.

Cahaya remang dari video dan alunan instrument mengiringi pemaparan Co Senior PIKM Faiq Yusron yang memvisualisasikan data kasus HIV-AIDS mulai kasus didunia, Indonesia, Jawa Tengah, sampai kasus di beberapa kabupaten di Pantura hingga mei 2011. Dari kasus yang dipaparan tersebut ternyata kasus penyebaran HIV masih tergolong tinggi. Faiq mengajak semua peserta untuk mulai merenung dengan kondisi dan fakta yang ada kemudian berfikir tentang jalan keluar serta bertindak sesuai kemampuan dan peran yang diambil guna bersama-sama menanggulangi penyebaran virus HIV agar tidak semakin meluas, khususnya pada generasi muda yang menjadi harapan bangsa.

Sebelum testimony (kesaksian) ODHA, di visualisasikan video tentang seseorang ibu rumah tangga dan anaknya yang HIV positif dari suami dan ayah yang sudah meninggal karena AIDS. Wanita ini bisa bangkit dari keterpurukan karena ditinggal oleh suami sekaligus mengetahui diri dan anaknya positif HIV untuk melanjutkan masa depan. Semangat ini tumbuh berkat dukungan keluarga masyarakat dan komunitas dukungan ODHA sehingga membuka pikirannya bahwa seorang ODHA pun bisa bangkit, berkarya dan berguna bagi orang lain seperti orang pada umumnya, bahkan pengabdiannya melebihi orang  sehat.

Renungan yang dihadiri lebih dari 100 orang tersebut dilanjutkan acara inti yakni testimony seorang wanita sekaligus  ibu dari gadis cilik dari Jepara. Perempuan yang juga positif HIV menceritakan kisahnya yang berawal dari pernikahannya pada 2008 silam dengan seorang laki-laki yang dicintainya, “saya tidak pernah mengetahui kehidupan malam, seks bebas, apalagi narkoba”. Kemalangan wanita ini dimulai pada bulan kedua usia perkawinannya yakni,  kematian suami yang  ternyata mengidap HIV-AIDS yang menular pada dirinya.“Sejak itu saya mengetahui awal mula saya terkena virus HIV yang ditularkan suami kepada saya. Suami diduga meninggal karena virus tersebut, setelah hasil tes keluar dan akhirnya dinyatakan positif” tutur narasumber tersebut “rasa hati saya tidak karuan, kenapa harus saya?” tambah dia  sembari mata berkaca.

Pada saat suaminya meninggal ibu tersebut dalam kondisi mengandung, namun karena dapat dideteksi sejak dini bahwa dia positif HIV, anak yang dilahirkan melalui bedah cesar dapat terhindar dari HIV setelah dilakukan VCT terhadap gadis kecil tersebut yang hasilnya negatif. Beda dengan ibunya yang sampai sekarang ini harus mengkonsumsi ARV untuk mempertahankan kondisi tubuhnya dari virus yang diidapnya.

Diawal kehidupannya sebagai ODHA yakni selama dua tahun dia dikucilkan oleh masyarakat sekitarnya, namun karena kegigihan, semangat hidup dan motivasinya untuk membesarkan anaknya maka dia mengisi hidupnya dengan kegiatan positif, selain aktivitasnya sebagai aktivis yang mendampingi anak dan ibu positif HIV AIDS, beliau juga mengembangkan bisnis makanan ringan berupa kripik.

Jadi sebenarnya HIV-AIDS bukanlah ahir dari segalanya namun dengan semangat, kemauan untuk hidup agar lebih bermanfaat dan dukungan dari masyarakat merupakan obat yang paling ampuh dalam memerangi HIV-AIDS.

Cahaya lilin diiringi alunan lagu “jangan menyerah” dan “lilin-lilin kecil” menutup Malam Renungan AIDS Nusantara, sembari bersalaman dan berpelukan antar peserta serta ODHA yang menjadi tamu pada malam tersebut menandakan acara telah berahir.

Ketua Panitia dari PIKM menutup dengan kalimat “Merenung, Berfikir dan Bertindak”, jadi renungan ini diharapkan menjadi awal untuk semua pihak untuk dapat berfikir dan bertindak dalam penanggulangan HIV-AIDS sehingga kasus bisa ditekan dan stigma negatif terhadap ODHA dapat dihilangkan yang sekaligus merangkul, memotivasi ODHA agar menjadikan hidup lebih berguna baik bagi diri dan masyarakat. (Udin/PIKM)

 

MODIN BELAJAR PEMULASARAN JENAZAH


DISKRIMINASI terhahadap ODHA tak hanya terajadi ketika masih hidup, namun ketika sudah meninggal masih sering terjadi stigma negatif dan diskriminasi yang berpengaruh terhadap kehidupan sosial dan psikologi keluarga yang ditinggalkan.

Penghapusan stigma negatif dan diskriminasi yang masih melekat dimasyarakat terhadap ODHA (orang dengan HIV&AIDS) merupakan pekerjaan rumah yang panjang dan butuh komitmen semua pihak.

Selain itu kegiatan preventif untuk menghindari perkembangan penularan juga harus terus dikampanyekan.

Fenomena diskriminasi dan cap buruk tersebut terjadi tidak mengenal batasan status, tingkat pendidikan, ekonomi serta budaya. Namun, orang dengan pendidikan tinggi, status sosial dan ekonomi mapan sering  terjadi stigma dan diskriminasi.

Hal tersebut terjadi karena minimnya informasi yang didapat tentang HIV&AIDS. Bahkan pada jenazah ODHA terkadang masih ada diskriminasi sehingga masyarakat enggan untuk mengantar dan mendoakan mereka, sehingga berakibat terhadap kehidupan sosial dan psikologi keluarga.

Padahal yang harus dilakukan oleh semua komponen adalah menjauhi penyakitnya bukan malah menjauh dari orangnya.

Berpijak dari fenomena tersebut, Organisasi Rakyat (ORA) mitra UPKM/CD RS Bethesda wilayah Jawa Tengah yang memang selalu komitmen terhadap penanggulangan HIV&AIDS mengadakan training motivator HIV AIDS.

Kegiatan yang digelar selama 3 hari mulai 24-25 Mei 2011 tersebut membidik kader ORA dan Modin (Kaur Kesra) sebagai peserta training, hal ini didasarkan pada kader ORA merupakan ujung tombak pembaharu dimasyarakat selain itu Modin yang merupakan tokoh dan juga aparat desa memegang peranan penting dimasyarakat yang sekaligus bertanggung jawab pada proses keagamaan salah satunya pada proses perawatan jenazah.

Peserta yang berasal dari 7 kabupaten di Jawa tengah berjumlah 26 orang terdiri dari Modin dan Kader ORA.

Kegiatan yang dibuka oleh AM UPKM/CD RS Bethesda Jateng diharapkan mampu mencetak kader motivator HIV AIDS diwilayah masing-masing. Dan untuk Modin dapat melaksanakan pemulasaran jenazah secara aman tanpa diskriminasi dan dapat memberi pengertian kepada masyarakat sehingga stigma dan diskriminasi dapat dihilangkan.

Training yang berlokasi dihotel Kurnia Pati menghadirkan narasumber yang sangat berkompeten dengan HIV&AIDS, antra lain dari KPA Jateng, RS. Suwondo Pati, RS Bethesda Yogyakarta, Semarang Plus untuk testimoni ODHA, dan dr. Iwan Setiawan dari Semarang.

Narasumber dari KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) Jawa Tengah mengungkapkan bahwa kasus HIV&AIDS sejak 1993 sampai  Maret 2011 berjumlah 3.555 kasus dengan HIV positif 1.964, AIDS 1.591 jiwa dan jumlah meninggal sebanyak 500 (31,43%).

HIV merupakan virus yang hidup dan berkembang dalam tubuh manusia yang sekaligus melemahkan sistem kekebalan tubuh, dan yang menjadi masalah sekarang belum ditemukan obat penyembuhnya.

Adapun obat yang ada yakni ARV hanya berfungsi untuk menekan virus HIV yang ada ditubuh sehingga tidak berkembang dengan cepat dan merusak kekebalan tubuh.

HIV dapat hidup dan menular lewat 4 macam cairan tubuh yaitu darah, cairan mani, cairan vagina, air susu ibu. Supaya dapat terhindar kita harus menghindari kontak antar cairan tersebut.

Penting diketahui bahwa HIV tidak ditularkan melalui kontak sosial, hidup serumah, berjabat tangan, makan bersama, berpelukan, terpapar bersin dan batuk dari penderita.

Gejala umum yang dialami pada penderita diantaranya diare berkepanjangan, demam, nafsu makan berkurang, sariawan dan berat badan menurun drastis hingga 10%. Apabila ditemukan gejala tersebut dan ada riwayat yang beresiko agar segera melakukan VCT (Voluntary Counseling and Testing).

Layanan VCT  menyediakan berbagai dukungan psikologis, memberikan pemahaman mengenai HIV AIDS, penyebab, perjalanan penyakit, pengobatan dan perawatan, VCT bersifat sukarela dan rahasia.

Mengenai pemulasaran jenazah disampaikan narasumber dari RS Bethesda yang menuturkan bahwa “prinsip dasar dari penanganan jenazah ODHA adalah sopan dan aman dari penularan”.

Materi unik yang belum banyak diketahui masyarakat mendapat sambutan antusias dari peserta.

Banyak kasus setelah ODHA meninggal, masyarakat sekitar maupun keluarga tidak berani untuk menyentuh, karena takut tertular dengan anggapan lebih mudah tertular, lebih banyak virus. Sebenarnya penanganan jenasah ODHA  dan penyakit menular harus dibedakan dengan jenasah pada umumnya.

Darah yang dikeluarkan oleh jenasah penyakit menular atau ODHA memang bisa  mentransmisi virus. Tetapi tidak semudah yang kita bayangkan. Misalkan tubuh kita ada luka mengeluarkan darah dan dalam pemulasaran jenasah darah jenasah ODHA masuk dalam luka kita, virus HIV bisa masuk dengan resiko sangat kecil. Virus HIV sendiri bila berada diluar tubuh manusia mudah mati terkena sinar matahari.

Dengan menggunakan alat pelindung standar untuk pemulasaran jenasah termasuk juga dalam upaya pencegahan.

Peralatan standar yang  ditetapkan RS Bethesda Yogyakarta untuk pemulasaran jenasah antara lain pakaian rompi plastik, penutup kepala, sarung tangan, masker, kacamata, scort (celemek plastic), dan sepatu boot. Untuk penggunaan sarung tangan diluar pakaian rompi sehingga darah jenasah tidak masuk ke pori kulit.

Dikalangan masyarakat pedesaan  penggunaan alat standar tersebut pastilah menimbulkan kecurigaan bahwa jenasah tersebut berpenyakit menular, untuk itu dibutuhkan pendekatan yang bersifat sebelum dan sesudah terjadi kasus.

Langkah antisipasi lain juga sangat diperlukan yakni sosialisasi pemulasaran jenasah sesuai standar diwilayah yang berisiko terdapat penyakit menular.

Dalam penutupan acara para peserta menyepakati beberapa hal tentang penanganan jenazah ODHA, yakni perlu koordinasi dengan keluarga, rumah sakit, petugas kesehatan dan kelompok dukungan, selain itu pada proses pemulasaran harus menggunakan peralatan standar dengan memperhatikan kearifan lokal diwilayah tersebut, dan Modin berkewajiban memberi pengertian kepada masyarakat tentang HIV&AIDS.

Mengetahui informasi yang tepat tentang pencegahan, penularan serta pengobatan merupakan langkah efektif untuk mencegah penularan dan menghilangkan stigma negatif yang terjadi dimasyarakat.

Penanggulangan HIV&AIDS merupakan tanggung jawab semua pihak. Peran serta masyarakat dalam penanggulangan HIV&AIDS sangat menentukan keberhasilan.

Bersosialisasi dan memperlakukan ODHA secara wajar merupakan harapan dan obat bagi mereka. (Dian Red)

DIAN SURA Edisi 15 (April-Juni 2011)



For PDF,  DOWNLOAD link bawah ini:

Dian Sura Edisi 15

MERUBAH PERILAKU HIDUP SEHAT MASYARAKAT JATIMUDO MELALUI WC BERGULIR


Kebiasaan MCK (mandi cuci kakus) warga desa Jatimudo, kecamatan Sulang, kabupaten Rembang, selama dua tahun ini mengalami banyak perubahan. Salah satunya, perubahan kebiasaan BAB (buang air besar) sembarangan. Dulu warga punya kebiasaan BAB di kali, kebun atau tempat lain. Kalaupun ada sarana sanitasi hanya berbentuk WC blung yang sangat tidak layak. WC dengan leher angsa hanya dimiliki warga dengan kondisi ekonomi yang baik.

Selain itu, sebelumnya desa Jatimudo juga termasuk desa yang mengalami kekurangan air bersih, terutama pada musim kemarau. Dengan segala cara, warga mencoba untuk mencari sumber air bersih. Misalnya, dengan membuat sumur gali. Kedalaman sumur minimal 20 meter baru didapatkan air yang diharapkan. Hal ini tentu saja berimbas pada biaya yang harus dikeluarkan warga menjadi sangat besar. Maka air sumur ini pun hanya bisa dinikmati warga tertentu. Selain itu, sumur gali ini ternyata juga banyak yang kering pada musim kemarau.

Berkaca dari kondisi tersebut, Organisasi Rakyat Himpunan Kerukunan Petani Maju (ORA HKPM) desa Jatimudo tergerak untuk membantu masyarakat keluar dari permasalahan yang telah dialami selama bertahun-tahun.

Langkah pertama yang dilakukan yaitu mengadakan program dana bergulir untuk pembangunan WC keluarga. Kegiatan ini dimulai pada bulan Maret 2009 melalui kerjasama dengan UPKM/CD RS Bethesda wilayah Jawa Tengah.

Pada tahap pertama, digulirkan dana sebesar Rp 6.000.000 yang direalisasikan kepada 4 kepala keluarga. Dana pinjaman tahap pertama bisa dikelola dengan baik sehingga pada September 2009 dikucurkan lagi dana tahap kedua sebesar Rp 6.000.000 dan disusul pada  Juni 2010 pinjaman tahap ketiga sebesar Rp 6.000.000.

Dalam pengelolaannya, ORA HKPM memberikan pinjaman tanpa bunga kepada anggota untuk pembuatan WC keluarga dengan nominal pinjaman tiap kepala keluarga sebesar Rp 1.500.000. Pinjaman ini dikembalikan ke ORA HKPM dengan cara diangsur tiap tiga bulan sekali selama 1 tahun.

Pinjaman tanpa bunga dari UPKM/CD Bethesda yang totalnya sebesar Rp 18.000.000 ini, selama kurun waktu lebih kurang 2 tahun sudah digulirkan kepada 32 kepala keluarga.

Selain program WC bergulir, ORA HKPM  berkerjasama dengan UPKM/CD RS Bethesda juga melaksanakan program pengadaan air bersih  melalui pembuatan sumur bor dan bak penampungan induk. Program tersebut dimulai pada pertengahan tahun 2010.

Program yang disambut antusias warga desa Jatimudo bertujuan agar kebutuhan air bersih masyarakat dapat tercukupi. Program pembuatan sumur bor dan bak penampungan ini menelan biaya relatif besar. Saat ini sudah bisa dinikmati 20 kepala keluarga berupa sambungan pipanisasi.

Distribusi air ke rumah warga dilakukan dengan sistem pipanisasi, sumber biaya berasal dari swadana masyarakat yang pengelolaannya dilakukan ORA HKPM. Dana swadaya tersebut berupa pembelian dan pemasangan pipa ke rumah tiap pelanggan. Sementara biaya operasional, misalnya untuk pembayaran listrik dan perawatan instalasi tiap bulan, dibebankan kepada warga sebesar maksimal Rp 15.000.

“Kedua program yang telah dilaksanakan tersebut dirasakan banyak sekali manfaatnya, baik dari segi kesehatan dan perubahan perilaku hidup masyarakat desa Jatimudo,” tutur Nyamini selaku pengurus ORA HKPM. “Kini semakin banyak warga masyarakat yang tidak BAB sembangan, tetapi di WC di rumah masing-masing,” tambahnya.

Nyamini juga menambahkan, dibalik kesuksesan program tersebut masih ada beberapa permasalahan lain berkaitan dengan kebutuhan air bersih dan WC bergulir, yaitu masih banyak warga yang belum bisa menikmati kedua program tersebut.

Ke depan, ORA HKPM ingin mewujudkan seluruh warga desa Jatimudo bisa mendapatkan akses air bersih dan mempunyai WC Keluarga, sehingga cita-cita hidup sehat bagi warga desa Jatimudo bisa cepat terwujud.

Sebuah cita-cita yang patut mendapatkan dukungan dari berbagai pihak baik pemerintah, swasta, dan terutama warga desa Jatimudo. (ORA HKPM)

Mengobati Jerawat


Kenapa kita sering kena jerawat….?

Jerawat merupakan suatu penyakit kulit berupa bisul-bisul kecil di sekitar wajah. Biasanya jerawat tumbuh pada anak usia remaja atau usia pubertas. Usia pubertas disertai kelebihan hormon yang tidak stabil, maka timbullah jerawat. Namun, belum tentu semuannya benar. Ada beberapa faktor yang menimbulkan jerawat, diantaranya hidup di daerah tropis khususnya di Indonesia sering kena jerawat, ada faktor keturunan, obat-obatan keras, darah kotor atau lemak yang berlebihan, hormon estrogen yang berlebihan, wajah berminyak, atau karena stres.

Maka dari itulah hindari makanan yang pedas-pedas, makanan berlemak seperti kacang, kedelai, dsb. Untuk mengobati jerawat bahan-bahan yang digunakan diantaranya :

1. Kunyit                      : 2 biji

2. Temu lawak              : 2 biji

3. Asam                       : 5 biji

4. Jeruk nipis                : secukupnya

5. Gula merah               : 1liter

Bahan no. 1 dan 2 dikupas, dicuci yang bersih kemudian diiris-iris. Jeruk nipis dibelah menjadi dua, kemudian bahan no. 1 sampai 4 direbus dengan 1 liter air sampai mendidih. Diminum tiga kali sehari satu gelas. Ini dilakukan sampai sembuh.

Ramuan ini untuk tiga hari, apabila sudah tiga hari ganti yang baru. Jika ingin praktis diparut atau diblender sebab lebih cepat sembuh dan berkualitas.

Dengan menggunakan masker dan ramuan yang diminum niscaya jerawat akan hilang. Insyaallah.

HEWAN JUGA PERLU SEHAT


Menjaga kesehatan tidak hanya berlaku bagi manusia, tetapi bagi hewan juga penting. Hewan yang sehat bisa membuat penghasilan sampingan yang memuaskan untuk memenuhi kebutuhan  hidup.

Tidak semua peternak memahami cara merawat kesehatan hewan yang baik. Salah satu contoh, warga desa Banyumanis, kecamatan Donorojo, kabupaten Jepara, disamping sebagai sebagai nelayan, sebagian besar juga beternak sapi dan kambing sebagai pekerjaan sambilan. Namun sayangnya, belum banyak warga yang mengerti cara beternak sapi dan kambing yang baik.

Hal ini terbukti banyak sapi yang mati karena sakit. Akibatnya, para makelar sapi yang menjadi lantaran jual beli sapi membeli sapi yang sakit dengan harga lebih murah. Kalau begini siapa yang rugi? Petani-petani kecil yang selalu rugi dan menjadi sasaran empuk bagi calo.

Menghadapi persoalan yang seperti ini, Organisasi Rakyat Kelompok Tani Klakah Makmur (ORA KTKM) bekerja sama dengan UPKM/CD RS Bethesda wilayah Jawa Tengah berinisiatif mengadakan Sosialisasi tentang Kesehatan Hewan dan Cara Beternak Sapi. Kegiatan ini diadakan pada tanggal 2 Desember 2010 bertempat di rumah Asnafi, salah satu anggota ORA KTKM. Sosialisasi ini diikuti 30 orang.

Beberapa pokok materi yang disampaikan Sujiyo dari Yapapa Yakkum Solo sangat bermanfaat bagi peternak sapi dan kambing. Menurut narasumber, ada beberapa prinsip cara beternak sapi yang baik dan benar, antara lain persiapan pakan, seperti penanaman  rumput dan pengumpulan jerami. Persiapan ini biasanya dilakukan sebelum membeli sapi.

Selanjutnya, pembuatan kandang dengan aturan untuk betina sebaiknya lantainya menurun ke belakang dan untuk jantan sebaiknya dipisah. Kalau masih satu kadang diberi jarak sekitar satu meter. Langkah berikutnya, barulah pemilihan bibit jantan jika ingin penggemukan atau betina untuk pengembang biakan.

Sebaiknya dibuatkan tempat kotoran untuk pembuatan pupuk organik. Sujiyo menyarakan agar kebersihan kandang setiap hari, baik pagi dan sore atau setiap ada kotoran langsung dibuang. “Hal ini untuk menjaga agar sapi tidak sakit,” jelasnya.

Bila sapi yang dipelihara adalah sapi betina maka bisa dilakukan IB (Inseminasi Buatan) atau kawin suntik. Tanda-tanda sapi yang birahi antara lain mengeluarkan lendir putih jernih, vaginanya merah memar dan kalau dipegang hangat. “Ada juga sapi yang terus menerus bersuara dan tidak mau makan,” terangnya.

Waktu yang tepat untuk mengawinkan, menurut Sujiyo, 18 jam setelah keluar lendir terakhir. Sementara umur kebuntingan dan melahirkan sekitar sembilan bulan lebih beberapa hari atau kurang lebih sepuluh hari. Setelah itu perlu diperhatikan umur penyapihan dan waktu untuk kawin lagi.

“Prinsip-prinsip ini penting diperhatikan oleh peternak agar bisa mengsilkan ternak yang lebih baik,” kata Sujiyo mantap.

Di Donorojo termasuk memiliki potensi ternak sapi dan kambing. Tetapi kebanyakan masyarakat kurang memperhatikan bagaimana tanda-tanda sapi yang siap kawin dan waktu yang tepat untuk dikawinkan serta cara perawatanya. Setelah diadakan sosialisasi, peserta bisa lebih mengetahui cara beternak sapi yang baik dan menghasilkan keuntungan yang lebih baik dari sebelumnya.

Selama ini banyak peternak yang mengawinkan sapinya sampai delapan kali suntik. Padahal sekali suntik mereka harus mengeluarkan biaya Rp 50.000. “Coba bayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan peternak sapi untuk mengawinkan, sedangkan biasanya mantri kawin suntik mengatakan ‘kalau saya diundang ya saya datang’,” komentar salah seorang peserta.

Sudi (49), salah satu anggota ORA KTKM juga mengeluhkan pelayanan mantra selama ini. Sebab, pernah sapinya mengalami kehamilan tujuh bulan dan untuk memastikannya Sudi bertanya kepada mantri kawin suntik. Namun, menurut sang mantri, sapinya tidak ada isinya dan minta kawin. Saat itu juga sapi itu diberi IB. Anehnya, tiga bulan kemudian ternyata sapi itu melahirkan. “Hal ini merupakan bentuk pelayanan kepada peternak yang tidak komprehensip dan terkesan membodohi,” keluhnya.

ORA KTKM menginginkan agar pemerintah, khususnya Dinas Pertanian dan Peternakan, lebih memperhatikan kinerja para mantri kawin suntik dalam pelayan kepada peternak sapi dan tidak hanya mengedepankan aspek bisnis kawin suntik ini.

Peserta berharap ada tindak lanjut dan pelatihan kader kesehatan hewan. Sehingga bila ada masalah kesehatan ternak di desanya, para kader ini bisa mengatasi dengan baik tanpa harus melibatkan pihak lain.

Peternak akan merasa puas jika hewan peliharaannya sehat dan memperoleh nilai ekonomi yang memadai sehingga bisa menunjang hidup sehat dan sejahtera bagi petani. (Asnafi/ORA KTKM)

SEKS YANG AMAN, MENCEGAH PENULARAN HIV-AIDS


Suara percakapan, canda dan tawa terdengar dari luar ruangan sebuah salon yang berlokasi di kecamatan Jati, kabupaten Kudus. Ada apakah gerangan?

Siang itu, sekitar pukul 13.00 WIB di bulan Februari 2011, sejumlah anggota IWAKU (Ikatan Waria Kudus) mulai berdatangan untuk menghadiri pertemuan rutin yang dilaksanakan tiap bulannya.

Pertemuan kali ini agak berbeda dari biasanya, hal ini karena PIKM (Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat) Kudus turut hadir. Meski bukan yang pertama PIKM hadir dan memberikan materi tentang penanggulangan HIV-AIDS dan narkoba, namun kali ini sambutan yang diberikan anggota IWAKU sangat antusias sehingga menambah keakraban dalam pertemuan itu.

Maklum saja, karena pertemuan itu bertepatan dilaksanakan pada bulan Februari sehingga sekaligus merayakan hari valentine. Hari itu, anggota IWAKU ingin juga mendapatkan kasih sayang dari semua pihak dan bukan hanya dari kaum mereka (waria, Red) saja.

Temen-temen mohon kejasamanya untuk mensukseskan acara ini supaya masyarakat bisa melihat bahwa kita itu juga bisa berkarya, berorganisasi dan bisa bermanfaat bagi orang lain,” kata Triana yang akrab dipanggil Jeng Tri member sambutan. “Dan supaya kita tidak terus menerus dipandang sebelah mata oleh masyarakat,” lanjutnya.

IWAKU merupakan wadah dari para waria yang ada di Kabupaten Kudus. Anggota IWAKU yang mayoritas berprofesi sebagai karyawan dan pemilik salon kecantikan ini beranggotakan 25 orang.

Kegiatan pada siang kali ini dihadiri oleh  20 orang anggota IWAKU, sementara dari PIKM berjumlah 3 orang. Agenda rutin kegiatan ini adalah arisan, iuran wajib anggota dan pembahasan kegiatan organisasi.

Setelah  acara arisan dan rapat kegiatan selesai, PIKM diberikan waktu untuk menyampaikan maksud dan tujuanya yakni sosialisasi HIV-AIDS dan pembagiaan kondom. Kegiatan sosialisasi ini dilakukan karena salah satu penyebab penularan HIV-AIDS adalah lewat hubungan seksual secara tidak aman.

Hubungan seksual yang tidak aman dan berganti-ganti pasangan berisiko menularkan dan tertular penyakit kelamin atau PMS (Penyakit Menular Seksual), seperti sipilis dan HIV-AIDS. Salah satu cara untuk mencegah penularan HIV-AIDS adalah dengan tidak berganti-ganti pasangan dan penggunaan kondom saat berhubungan seks. Sehingga pembagian kondom ini merupakan salah satu bentuk kampanye dalam rangka menanggulangi penyakit tersebut. PIKM memandang aktivitas seksual yang dilakukan oleh sebagian waria ada kecenderungan menyebabkan terjadinya penularan PMS, terutama HIV-AIDS.

Pembagian kondom ini bukan untuk melegalkan hubungan seksual oleh mereka yang bukan pasangan suami-istri dan bukan mengarahkan mereka untuk melakukan prostitusi secara bebas, namun semata-mata untuk melakukan pencegahan penularan HIV-AIDS di masyarakat. Karena mereka juga mempunyai pasangan hidup yang juga belum tentu bebas dari PMS dan sebagian masih melakukan ganti-ganti pasangan.

Pada pertemuan tersebut, banyak juga waria yang datang dengan diantar oleh pasangan mereka. Bahkan, ada juga yang sudah berkomitmen dengan pasangan masing-masing untuk saling setia dan tidak mangkal di jalanan lagi.

Keanggotaan IWAKU sering terjadi keluar masuknya anggota, sehingga meski sudah sering dilakukan sosialisasi tentang HIV-AIDS, masih ada sebagian yang belum paham mengenai penyakit menular mematikan itu.

Beranjak dari  itu, tim dari PIKM menguraikan tentang cara penularan, pencegahan dan menegaskan untuk tidak mendiskriminasikan (mengucilkan) orang atau teman mereka yang telah terkena HIV-AIDS. Dukungan mereka sangat diperlukan untuk memompa semangat agar orang yang terinfeksi HIV-AIDS tetap bisa bertahan dalam melawan penyakit tersebut.

Dari uraian yang diberikan muncul beberapa pertanyaan yang berkenaan dengan penularan serta pencegahan HIV-AIDS. Semua pertanyaan tersebut dijawab dengan gamblang oelh tim dari PIKM.

Di akhir kegiatan, PIKM melakukan praktek pemasangan kondom yang benar dengan menggunakan boneka kayu yang sudah dibentuk sedemikian rupa sehingga mengundang tawa dan komentar lucu dari anggota IWAKU. Praktek pemasangan kondom ini sengaja dilakukan untuk memberikan pemahaman yang benar tentang cara pemasangan kondom agar resiko sobek dan bocor dapat dihindari.

Antusias dan respon positif diberikan anggota IWAKU kepada PIKM. Mereka berharap PIKM bisa terus mendampingi, agar anggota IWAKU semakin paham untuk menghindari HIV-AIDS yang menjadi momok menakutkan saat ini.

Mereka juga sadar pentingnya pengetahuan tentang informasi kesehatan dan keorganisasian bagi diri sendiri dan kelompok agar eksistensi mereka dapat bermanfaat, minimal bagi anggota serta terus mampu berkarya dan menata hidup yang lebih baik. Mereka sadar masih banyak masyarakat yang belum bisa menerima kehadiran mereka. (Triman)

SANITASI SEHAT MENJADI KEBUTUHAN WARGA DERAS


CLTS (Community Lit Total Sanitasion) yang dalam bahasa Indonesia berarti Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) merupakan salah satu program pemerintah untuk mendorong peningkatan kesehatan lingkungan melalui ketersediaan sarana sanitasi dan perubahan perilaku hidup bersih dan sehat.

Pemahaman tentang CLTS merupakan hal penting bagi warga masyarakat, karena dengan mengetahui informasi tersebut bisa menjadi salah satu tolok ukur bagi instasi pemerintah maupun organisasi masyarakat dalam rangka mewujudkan peningkatan kesehatan masyarakat.

Memandang pentingnya sanitasi yang baik, ORA Kelompok Tani Korban Banjir (KTKB) desa Deras pada bulan Januari 2011 berkerjasama dengan Pemerintah Desa Deras dan Tim Pembina CLTS Kecamatan Kedungjati Kabupaten Grobogan menggelar diskusi dan pemicuan atau pemetan CLTS.

Kegiatan yang bertujuan untuk mengetahui jumlah jiwa tiap keluarga dan kepemilikan jamban atau sarana sanitasi ini dihadiri 75 orang warga masyarakat dan tim Pembina dari kecamatan Kedungjati selaku narasumber.

Dalam kegiatan itu, warga masyarakat diminta membuat peta tata letak rumah masing- masing yang disertai jumlah jiwa dalam keluarga dan ketersediaan jamban di rumah itu.

Pemicuan CLTS ini berhasil memetakan sebanyak 90 rumah dari 2 RT di wilayah RW 1 Desa Deras. Dari 90 rumah didapat 30 rumah yang mempunyai WC keluarga dan 60 lainnya belum mempunyai WC keluarga.

Usai pemetaan, diadakan diskusi antara tim Pembina CLTS Kecamatan dengan warga masyarakat. Antusiasme kelihatan dari banyaknya pertanyaan yang muncul dari perserta. Salah satunya pertanyaan muncul dari Romlah (37) yang menanyakan, “Mengapa rumah warga harus dibedakan antara yang mempunyai jamban dan tidak?”

Kartinah, salah satu anggota Tim CLTS Kecamatan Kedungjati, menuturkan pengelompokan dimaksudkan agar masyarakat yang belum mempunyai jamban mau membuat kontrak sosial yang berisi kapan warga sanggup membuat jamban dan kapan jamban bisa ditinjau oleh tim pemantau dari desa.

Upaya mewujudkan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di masyarakat, terutama di lingkungan kecamatan Kedungjati bukanlah hal yang mudah, karena tingkat kesadaran yang relatif kurang. Hal ini ditambah kesulitan memperoleh air bersih, terutama dimusim kemarau, menjadi salah satu faktor penghambat kesuksesan program tersebut.

Namun, diharapkan warga masyarakat, terutama warga desa Deras, mampu menanamkan kebiasaan hidup sehat, misal dengan cara tidak buang air besar sembarangan dan tidak buang sampah sembarangan.

Salah satu penyebab ketidaktersediaanya WC keluarga adalah kemampuan ekonomi yang terbatas sehingga pengadaan WC keluarga tidak dapat dilakukan warga. Oleh sebab itu, bagi ORA KTKB tidaklah cukup hanya melalui proses pemicuan. Beranjak dari permasalahan tersebut ORA KTKB berkerjasama dengan UPKM/CD RS Bethesda wilayah Jawa Tengah melaksanakan program dana bergulir untuk WC keluarga.

Sejak dimulainya pengguliran pertama pada Januari 2011 baru terealisasi sebanyak 6 unit WC. Namun, melalui dana pinjaman tersebut ternyata mampu memacu minat masyarakat untuk memiliki WC di rumah masing-masing. Hal ini dibuktikan dengan adanya 50 kepala keluarga yang mendaftar WC bergulir ini. Sudah selayaknya antusiasme masyarakat ini disambut berbagai pihak, terutama pemerintah.

Masyarakat desa Deras berharap kegiatan Pemetaan CLTS tidak hanya berhenti pada perolehan data, namun juga ditindaklanjuti dengan monitoring dan program penunjang untuk membantu kemampuan menyediakan sarana sanitasi yang sehat.

Ke depan warga Desa Deras juga diharapkan mampu berperilaku hidup sehat dan tercukupi sarana penunjang kesehatanya, terutama fasilitas sanitasi yang baik dan memadai. Dengan demikian, masyarakat dapat terhindar dari penyakit yang disebabkan lingkungan yang kurang sehat. Selain itu, dibutuhkan dukungan dari semua pihak untuk membantu warga desa Deras dalam mewujudkan desa yang sehat. (Asih/ORA KTKB).

KAPSUL, OBAT TRADISIONAL YANG PRAKTIS DAN TAHAN LAMA


Dunia ini dari masa ke masa mengalami perubahan yang kian maju. Perubahan – perubahan ini terjadi karena pola hidup dan peningkatan sumber daya manusia. Perubahan terjadi di berbagai sektor, antara lain, pertanian, perindustrian, kesehatan, dan sebagainya. Salah satu kemajuan di bidang kesehatan yaitu keberadaan obat tradisional yang semula direbus, kini bisa ditemukan dalam bentuk kapsul.

Indonesia memiliki lebih kurang 30.000 spesies tumbuhan dan 940 spesies di antaranya tumbuhan berkhasiat. Namun, baru sekitar 180 spesies yang telah dimanfaatkan oleh industri  jamu tradisional. Jamu ini merupakan potensi pasar obat herbal atau obat tradisional.

Penggunaan bahan alam sebagai obat tradisional di Indonesia telah dilakukan nenek moyang sejak berabad-abad yang lalu. Terbukti dari adanya naskah lama pada daun lontar husodo di Jawa, lontar usodo di Bali, lontarak pabbura di Sulsel, atau relief candi Borobudur yang menggambarkan orang sedang meracik obat ( jamu ) dengan tumbuhan sebagai bahan bakunya.

Namun, obat tradisional yang digunakan umumnya masih berupa rebusan dan pada musim –musim tertentu bahan obat obatan tersebut sulit dicari. Oleh sebab itu, dalam perkembangannya, para pakar yang berkompeten mencari dan mempelajari cara pembuatan obat tradisional yang lebih praktis dan tahan lama. Maka dibuatlah dalam bentuk kapsul yang lebih mudah diminum dan tidak menyita ruang karena bentuknya praktis dan mudah dibawa ke mana-mana.

Guna mempelajari ketrampilan ini, pada 22 November 2010 lalu Organisasi Petani Sejahtera (OPS) desa Bogem, kecamatan Japah, kabupaten Blora, mengadakan Pelatihan Pembuatan Kapsul Batra. Kegiatan ini dilaksanakan di rumah Sutikno (50), ketua OPS, dan dihadiri 23 peserta. Mereka berasal dari anggota ORA OPM desa Dringo dan OPS sendiri. Narasumber yang hadir yaitu Sudiman dan Choirul Anang dari UPKM/CD Bethesda wilayah Jawa Tengah.

Pertama-tama kedua nara sumber melakukan sesi tanya jawab dengan peserta tentang jenis-jenis tanaman obat apa yang dikenal di lingkunganya dan kegunaannya. Beberapa jenis tanaman obat yang dikenal antara lain sambiloto, kumis kucing, suruh-suruhan, salam, pace, dan sebagainya.

Narasumber juga menjelaskan cara memilih bahan melalui proses pensortiran basah dan kering, pencucian, perajangan, pengeringan, dan penyimpanan yang benar.

Tahap pembuatan kapsul dimulai dari pemilihan bahan-bahan tanaman yang sudah dipilih dengan baik dan disesuaikan dengan jenis penyakitnya. Misalnya, kapsul untuk penyakit hipertensi, bahan yang dipilih adalah buah mengkudu atau pace yang sudah dibuat serbuk (100 gram) sebagai bahan utama, daun sambiloto (100 gram) sebagai bahan utama dan daun kumis kucing (50 gram) sebagai bahan tambahan.

Sedangkan bahan untuk penyakit asam urat terdiri dari daun kepel (100 gram) sebagai bahan utama, daun suruh-suruhan (100 gram) sebagai bahan utama dan daun kumis kucing (50 gram) sebagai bahan tambahan.

Proses pembuatannya, bahan utama dicampur dengan bahan tambahan dimasukan dalam toples kaca, diberi air sebanyak 875 ml dan alkohol 875 ml. Bahan kemudian diaduk hingga tercampur. Lalu tutup toples rapat-rapat dan biarkan selama 5 hari baru disaring dengan kain untuk mendapatkan air sarinya yang sudah mengendap pada larutan air dengan alkohol.

Air hasil penyaringan lalu ditaruh dalam panci stenlis, kemudian dikukus dengan cara infundasi dengan suhu api 90oC, tidak boleh dengan suhu 100oC. Selama dikukus lebih kurang satu jam, air sari diaduk-aduk agar tidak terjadi kerak di panci. Setelah airnya hampir mengental lalu dimasukkan tepung amilum atau tepung sari jagung.

Aduk terus hingga adonan kering dan menjadi serbuk kembali. Guna menghasilkan serbuk yang baik, bisa diblender dulu agar lebih mudah dimasukan dalam kapsul.

Serbuk yang dihasilkan lalu dimasukan dalam kapsul. Cara memasukan serbuk dalam kapsul memang tidak semudah yang dibayangkan. Butuh ketelitian ,dan kesabaran. Hal ini juga dialami beberapa peserta yang setelah sekian kali mencoba ada yang menyerah. Namun, banyak peserta lain yang bisa dengan mudah melakukannya.

Selain praktek pembuatan kapsul, peserta juga diajari cara membuat salep dan balsam. Semuanya bisa diselesaikan peserta. Mereka bisa membuktikan ternyata membuat obat tradisional bisa dilakukan siapa saja dan bahan-bahannya pun mudah didapatkan di sekitar. Apalagi obat tradisional ini banyak manfaatnya, tidak kalah dengan obat buatan pabrik.

Semoga batra dalam bentuk kapsul ini bisa berkembang dan diminati masyarakat, karena efek sampingnya lebih kecil dari pada obat kimia. Batra juga telah diakui oleh pemerintah, baik melalui undang-undang dan dengan dibangunnya Hortus Medikus di Tawangmangu tahun 1947 yang sekarang berubah menjadi BPTO (Balai Penelitian Tanaman Obat). (Yono/ORA OPS)