BOKASI, GAMPANG MEMBUATNYA, BESAR MANFAATNYA


Masyarakat Blora dan Kudus memiliki popularitas yang sama dalam bidang peternakan. Jika Kudus lebih terkenal dengan kerbaunya, maka Blora lebih menonjol sapi potongnya.

Selain berprofesi sebagai petani, sebagian besar penduduk Blora di pedesaan memiliki kesibukan sebagai peternak sapi. Salah satunya, masyarakat desa Dringo, kecamatan Todanan. Setiap keluarga di desa ini rata-rata memiliki 2 sampai 3 ekor sapi. Kadang masih ditambah beberapa ekor kambing.

Tak perlu ditanyakan lagi berapa banyaknya kotoran ternak yang tertumpuk di desa ini setiap harinya. Sayangnya, timbunan limbah ternak itu belum dimanfaatkan secara maksimal oleh petani setempat.

Padahal, apabila masyarakat mau belajar cara pemanfaatannya, maka kotoran ternak itu tidak akan terbuang sia-sia. Sebab, dalam pengembangan pertanian organik saat ini, limbah ternak itu dapat diolah menjadi bokasi atau dimanfaatkan sebagai energi biogas.

Petani di Dringo biasanya langsung mengusung kotoran ternak itu ke ladang atau sawah tanpa diproses terlebih dulu. Bahkan, banyak pemilik sapi yang membiarkan kotoran ternaknya menggunung di tempatnya. Sungguh merupakan pemandangan yang kurang sedap.

Harta terpendam itu belum dimanfaatkan secara maksimal oleh para petani, bukan karena malu pada tetangga atau takut disangka tidak mampu membeli pupuk kimia, tetapi, lebih disebabkan karena ketidaktahuan atau belum bisa membuat bokasi.

Melihat kondisi ini, Organisasi Peduli Masyarakat (OPM) desa Dringo berkeinginan membantu para petani mencari solusi atas permasalahan yang sedang dihadapi. Melalui kerjasama dengan UPKM/CD RS Bethesda wilayah Jawa Tengah, pada tanggal 26 April 2010 diadakan Training Pertanian Organik.

Acara ini menghadirkan Sugianto dari ORA Sumber Utami desa Solowire, kecamatan Kebonagung, kabupaten Demak dan Faiq Yusron dari PIKM Kudus sebagai narasumber. Sekitar 60 peserta mengikuti pelatihan ini, termasuk kepala desa Dringo dan para perangkat desa setempat.

Kedua narasumber menegaskan, kondisi lahan pertanian saat ini sedang sakit akibat penggunaan pupuk dan pestisida kimia sintesis yang terus menerus. Melalui penggunaan racun secara berlebihan ini, lambat laun para petani merasakan dampak negatifnya.

Meski tanaman dapat tumbuh dengan baik, tetapi gulma penggangu tanaman juga tumbuh tidak kalah suburnya. Dampak negatif lainnya adalah tanaman sangat rentan terhadap serangan hama dan penyakit, tanah pertanian menjadi tandus dan kering serta susah menyimpan air tanah.

“Yang memprihatinkan lagi, jika produk pertanian dengan pupuk kimia sintesis ini kita makan, maka unsur racunnya akan ikut masuk ke dalam tubuh dan dapat mengganggu kesehatan tubuh kita,” jelas Sugiyanto.

“Orang tua kita dulu fisiknya kuat-kuat. Di usia 70 tahun, gigi mereka masih utuh,” kata Sugiyanto memberi contoh. “Tapi orang zaman sekarang, usia belum genap 50 tahun, giginya sudah banyak yang tanggal,” tandasnya.

Agar tanah pertanian bisa kembali sehat, Sugiyanto meminta agar para petani tidak perlu putus asa untuk mencari solusinya. Tanah yang sakit dapat dengan diobati. “Caranya adalah kembali ke pertanian organik,” kata Sugiyanto kepada para peserta.

Bertani organik berarti berusaha mengembalikan unsur yang berasal dari tanah agar dapat balik ke tanah. Misalnya, jerami padi sebaiknya dikembalikan ke lahan dan tidak dibakar, kotoran ternak yang telah makan jerami atau tanaman juga dikembalikan ke lahan, dan sebagainya.

Salah satu cara mengembalikan kotoran ternak ke lahan agar tidak menimbulkan munculnya banyak rumput, maka perlu diolah menjadi pupuk bokasi. “Bokasi merupakan salah satu bahan yang akan dapat menyuburkan tanah yang sakit,” kata Sugiyanto disela-sela praktek membuat bokasi. Menurut kedua narasumber, pembuatan bokasi merupakan pekerjaan yang mudah dan bisa dilakukan semua petani.

Selain membuat bokasi, dalam pelatihan ini peserta juga diajak mempraktekkan cara pembuatan pestisida alami, pupuk NPK nabati, dan mikro organisme lokal (MOL). Diharapkan peserta mampu menerapkannya dalam pola pertanian mereka.

Peserta juga diminta untuk mau berbagi pengetahuan yang telah diperoleh kepada masyarakat luas. Tidak hanya bagi petani di desa Dringo, namun juga petani-petani lainnya agar semakin banyak petani yang mampu menerapkan pertanian organik.

“Kita ingin membangun cara hidup serasi dan selaras dengan alam,” kata Faiq Yusron. Tubuh sehat, alam pun tersenyum. (Musyafak/ORA Organisasi Peduli Masyarakat)

Posted on 4 Maret 2011, in Pertanian Organik. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: