Catatan dari Studi Lapangan Peserta Training Pertanian Organik bagi ORA NTT : MENCARI ‘OBAT’ DI JAWA TENGAH


Minggu, 20 Juni 2010, Aliansi Petani Mandiri Pantura Timur (APMPT) Jawa Tengah telah kedatangan tamu peserta Pelatihan Pertanian Organik dari Organisasi Rakyat (ORA) wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Rombongan perwakilan dari area Sumba, Timor Barat, Flores dan Alor ini berjumlah 8 orang, masing-masing area diwakili 2 orang. Mereka terdiri dari 7 orang laki-laki dan 1 orang perempuan.

Kedatangan utusan ORA wilayah NTT ini di Jawa Tengah untuk melakukan studi lapangan setelah selama 7 hari mendapatkan pelatihan pertanian organik di Sleman, Yogyakarta. Konsep dan gambaran tentang pertanian organik serta manajemen bertani organik dirasakan sudah cukup memadai diberikan oleh Edy Sutanto saat pelatihan di Sleman, namun peserta masih perlu belajar secara praktis pembuatan pupuk dan pestisida organik sebagai bekal ketrampilan. Sehingga melalui studi lapangan di Jawa Tengah diharapkan peserta dapat memperoleh bekal ketrampilan tersebut sebagaimana sudah dipraktekkan di ORA-ORA Jawa Tengah.

Sebelum melakukan studi lapangan, peserta dari ORA wilayah NTT ini diajak berdiskusi dengan pengurus APMPT dengan difasilitasi oleh UPKM/CD Bethesda wilayah Jawa Tengah. Diskusi ini untuk bertukar pengalaman antara peserta yang sudah mendapatkan bekal pengetahuan pertanian organik selama 7 hari di Sleman dengan pengalaman APMPT selama ini.

Menurut Rangga (56 tahun), perwakilan dari ORA di Flores, yang mewakili peserta dari NTT, selama satu minggu di Sleman mereka hanya mendapatkan manajemen pertanian organik saja dan jalan-jalan untuk melihat lahan yang telah diolah secara organik. Namun mereka sebenarnya berharap agar tidak hanya diberikan materi berupa teori dan melihat hasil pengolahan lahan saja, tetapi juga praktek langsung bagaimana cara membuat pupuk bokasi, pupuk cair dan lain-lain seperti yang diajarkan dalam teori.

“Kalau ada praktek, kami bisa mencoba langsung proses pembuatan bahan organik dan nantinya bisa diterapkan di wilayah masing-masing,” kata Rangga. “Melalui studi lapangan di Jawa Tengah ini, kami berharap bisa mendapatkan ‘obat’ dari kekurangan selama pelatihan di Yogya,” harapnya.

Meski tidak menjanjikan, harapan peserta ini akan dijawab melalui kunjungan ke ORA-ORA mulai esok harinya. Selanjutnya, dalam kesempatan ini Sukendri, selaku Area Manager UPKM/CD Bethesda wilayah Jawa Tengah memaparkan materi tentang “Mengenal Aliansi Petani Mandiri Pantura Timur (APMPT)”.

“Dasar pemikiran keberadaan APMPT antara lain adanya keprihatinan pemakaian pupuk kimia, pestisida dan bahan-bahan sintetis lainnya secara berlebihan,” papar Sukendri. “Hal ini berdampak pada penurunan kualitas lingkungan dan kesehatan manusia,” lanjutnya.

APMPT sepakat untuk mencari alternatif bercocok tanam yang dapat menghasilkan produk yang bebas dari cemaran bahan kimia sintetis serta menjaga lingkungan yang lebih sehat. “Solusinya kembali ke cara pertanian alamiah,” kata Sukendri.

Mulai tahun 2006, organisasi rakyat (ORA) di Jawa Tengah mulai melakukan pelatihan pengenalan pertanian organik dan membentuk jaringan petani organik. Selanjutnya, tahun 2007, kembali dilakukan pelatihan intensif tentang pertanian organik, pembuatan pupuk cair, pestisida nabati, dan pakan ternak.

Melalui berbagai pertemuan APMPT, disepakati bahwa pertanian organik berarti bertani dengan cara menghormati dan menjaga keselarasan alam. Tujuan yang ingin dicapai yaitu: menyediakan produk yang sehat, aman dan ramah lingkungan. Lalu pada tahun 2008, disepakati slogan APMPT yaitu : “Petani Mardiko Nyawiji Ing Alam” atau Hidup Selaras Dengan Alam.

“Walau memakai slogan hidup selaras dengan alam, tetapi pertanian organik berbeda dengan pertanian alamiah masa lalu,” papar Sukendri. “Pertanian organik modern butuh teknologi bercocok tanam, penyediaan pupuk organik, serta pengendalian hama dan penyakit menggunakan agen hayati atau mikroba serta manajemen yang baik,” lanjutnya.

Melalui pengenalan kegiatan APMPT ini, diharapkan peserta training dapat memperoleh gambaran praktis dari teori manajemen jaringan pertanian organik yang sudah diterima di Yogya.

Hari kedua, tanggal 21 Juni 2010, peserta menuju ke ORA Sumber Utami, desa Solowire, kabupaten Demak yang sudah menerapkan pertanian organik. Kunjungan di ORA Sumber Utami berlangsung di rumah ketuanya yaitu Sugiyanto. Selama lebih dari 3 tahun ini, Sugiyanto sudah bertani organik dengan memproduksi sendiri mikro organisme lokal (MOL), pupuk cair, serta pestisida organik. Selain itu, di rumah Sugiyanto juga dibangun percontohan biogas yang limbahnya juga bisa dimanfaatkan untuk pupuk di lahan pertaniannya.

Pada kesempatan ini, peserta belajar dan mempraktekkan langsung cara pembuatan pestisida hayati yang memanfaatkan urine sapi, kunyit, biji mahoni, brotowali dan bahan pendukung lainnya, serta pembuatan pupuk cair NPK dari serabut kelapa. Peserta juga diberi kesempatan untuk melihat instalasi biogas dari bahan plastik yang ada di rumah Sugiyanto dan juga lahan sawah yang dijadikan demplot pertanian organik. Meski panas terik matahari menyengat dan belepotan lumpur sawah, namun peserta cukup antusias meninjau lokasi lahan karena mereka ingin tahu padi lokal yang dikelola secara organik.

Kegiatan yang tidak kalah menarik yaitu saat praktek pengukuran PH tanah dan kualitas pupuk serta pestisida organik dibandingkan dengan pupuk urea. Alat yang dibuat secara sederhana ini mampu meyakinkan peserta tentang manfaat pertanian organik dan peserta mulai berpikir cara pembuatannya agar bisa dipraktekkan saat pelatihan di wilayahnya masing-masing.

Peserta selanjutnya diajak untuk melakukan kunjungan studi di Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat (PIKM) di Kota Kudus. PIKM yang sebagian besar anggotanya terdiri dari mahasiswa ini selama ini aktif dalam kegiatan penanggulangan HIV-AIDS dan juga bergelut dalam pertanian organik. Pada kesempatan ini peserta diperkenalkan tentang metode pertanian dengan System of Rice Intensification (SRI), yaitu pertanian padi melalui pengurangan air di lahan pertanian.

Di ‘markas’ PIKM ini, peserta diajari dan mempraktekkan langsung cara pembuatan MOL dari bahan air kelapa, buah pepaya, buah mojo, bonggol pisang, dan bahan pendukung lainnya. Dengan semangat dan rasa ingin tahunya, peserta mempraktekkan sendiri proses pembuatan MOL ini. Kegiatan ini dapat berjalan lancar dan peserta bisa memahami proses pembuatan MOL.

Peserta juga diajak melihat lahan pertanian organik dengan SRI yang dikelola PIKM. Peserta dapat membandingkan lahan yang dikelola secara organik dan anorganik dengan melihat kondisi tanaman padi, dimana padi yang dikelola secara organik tahan terhadap hama wereng sedangkan padi yang dikelola secar anorganik habis dimakan wereng.

Hari ketiga, tanggal 22 Juni 2010, peserta berkenalan dengan ORA KTKM yang juga menggeluti pertanian organik. Selain mengelola lahan pertanian organik, di ORA KTKM juga terdapat instalasi biogas di rumah ketuanya, Sudipo. Selain menghasilkan gas untuk kompor dapur, limbah biogas ini dimanfaatkan oleh Sudipo sebagai pupuk cair maupun padat di lahan pertaniannya. Limbah biogas sangat baik untuk menyuburkan tanah.

ORA KTKM juga mengembangkan molase perangsang makan ternak karena di wilayah ini hampir setiap rumah tangga mempunyai sapi atau kambing sebagai hewan peliharaan. Pada kesempatan kunjungan studi ini, peserta diajari dan mempraktekkan langsung cara pembuatan molase perangsang makan ternak.

Oleh karena ketrampilan ini merupakan hal baru bagi peserta, mereka sangat antusias untuk mempraktekkannya dengan menumbuk dan meracik semua bahan yang sudah disiapkan. Hasil praktek ini selanjutnya dibagikan kepada peserta sendiri.

Selanjutnya, peserta diajak melihat-lihat lahan pertanian organik yang dikelola Sudipo. Lahan sawah ini sudah 2 kali panen padi organik dan saat kunjungan sedang masa tanam yang ketiga dengan varietas padi yang ditanam berupa pandan wangi dan beras merah.

Sebagai tempat studi lapangan terakhir, peserta diajak ke ORA Organisasi Peduli Masyarakat (OPM) desa Dringo – Blora. Di desa ini memiliki potensi pupuk kandang yang melimpah karena setiap rumah tangga memiliki hewan ternak sapi minimal 2 ekor. Kotoran ternak inilah yang dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk bokasi. Warga Dringo menyambut dengan baik kedatangan peserta pelatihan dari ORA NTT ini.

Setelah melalui percakapan dan perkenalan singkat serta penjelasan maksud kedatangan peserta dari NTT ini, mereka kemudian diajak untuk mempraktekkan cara pembuatan pupuk bokasi dari bahan kotoran sapi, sekam padi, bekatul dan bahan pendukung lainnya.

Meski kelelahan karena perjalanan yang jauh, namun peserta antusias mempraktekkan pembuatan pupuk bokasi ini. Namun demikian, dari total bahan yang disediakan 1 ton, peserta hanya mampu membuat 1/3 nya saja. Yang penting proses pembuatan sudah bisa dipahami peserta.

Dalam evaluasi setelah semua kegiatan selesai dilaksanakan, peserta dari ORA NTT menilai, kegiatan praktek langsung seperti di Jawa Tengah inilah merupakan “obat” yang dicari dari kekurangan selama pelatihan pertanian organik di Yogya. (Sudiman)

Posted on 4 Maret 2011, in Pertanian Organik. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: