Suka Duka Menjadi Jurnalis Dian Sura


Meski ada buku yang mengatakan, “Menulis itu mudah”, tapi bagi jurnalis Dian Sura yang sebagian besar bekerja sebagai petani, ternyata membuat berita bukanlah pekerjaan yang mudah. Tidak segampang orang ngobrol dengan temannya. Agar bisa menulis berita yang baik perlu mengerti kaidah jurnalistik.

Sebagai masyarakat biasa, tim redaksi Dian Sura sepakat untuk menyebut dirinya jurnalis atau pewarta atau orang yang menyampaikan berita. Bagi Organisasi Rakyat (ORA), kehadiran jurnalis dianggap penting karena kurangnya media informasi yang tersedia di masyarakat.

Lalu, mengapa harus ada rakyat yang menjadi jurnalis? Otto Nodi, jurnalis senior dari UPKM/CD Bethesda Yogyakarta, menyatakan bahwa setidaknya masyarakat dapat mengenal ilmu jurnalistik, supaya bisa lebih jeli dalam membaca berita-berita yang dipaparkan media massa. Namun, menjadi seorang jurnalis dengan kemampuan menulis berita sendiri dan dengan media yang dikelola sendiri juga penting.

Seorang jurnalis yang ideal memang memerlukan beberapa syarat, antara lain harus mempunyai data yang otentik dan benar, punya etika, punya media massa, kaya akal, dan banyak mengakses informasi. Selain itu, seorang jurnalis harus mempunyai kode etik agar bisa memberikan informasi lebih akurat.

Menjadi seorang jurnalis memang tidak mudah seperti yang dibayangkan, namun juga tidak terlalu sulit jika mau berusaha. Hal ini terbukti ketika tim jurnalis Dian Sura membuat berita dalam setiap edisi. Meski telah mendapat pelatihan dasar penulisan berita dan reportase selama tiga hari, jurnalis Dian Sura masih saja mengalami kendala saat membuat berita.

Kendala yang ditemui paling banyak biasanya menyangkut isi berita, penyusunan paragraf dan penentuan judul. Saat tim redaksi Dian Sura berkumpul, kadang ada anggota yang tidak membawa satu pun tulisan sebagai bahan berita. Hal ini membuktikan adanya kendala menulis berita yang dialami sebagian anggota tim redaksi.

Seorang jurnalis, menurut Hamdan Farhan, memang perlu mempersiapkan pewartaan yang akurat, menyangkut tema pokok berita serta fokus pada sudut pandang berita. Di samping itu, perlu ada latar belakang dalam pemaparan berita. Bahan berita bisa bersumber dari hasil wawancara, selain kejadian nyata yang diliput dalam berita. Berita bisa didukung dengan foto atau gambar bila perlu, sesuai dengan isi berita. Tujuannya untuk memperkuat informasi atau kejadian yang diberitakan.

Tim redaksi menyadari, para jurnalis Dian Sura belum mampu memenuhi syarat untuk menjadi jurnalis yang ideal. Maklumlah jurnalis rakyat, menulis berita bukanlah pekerjaan utama mereka sehingga hasil yang dikeluarkan tidak seperti para wartawan profesional. Selain itu, banyak keterbatasan pengetahuan dan ketrampilan pada setiap anggota redaksi.

Berdasarkan pengalaman, redaksi Dian Sura seringkali menerima kiriman berita yang hanya berisi poin-poin penting saja dari kegiatan di ORA tanpa adanya penjelasan mendetail. Padahal membuat berita harus memenuhi standar pewartaan.

Selain itu, ada beberapa jurnalis yang belum bisa menulis dengan komputer. Padahal sudah eranya penulisan menggunakan komputer. Di sinilah pentingnya berbenah diri bagi jurnalis Dian Sura agar dapat meningkatkan kualitas pemberitaan dengan tetap bersandar pada standar pembuatan berita.

Memasuki usia ketiga ini, jurnalis Dian Sura diharapkan dapat meningkatkan kualitas terbitan agar menjadi lebih baik. Sehingga isi berita yang ditulis dapat diterima masyarakat luas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Berikut ini ungkapan suka duka dan harapan sebagian jurnalis Dian Sura yang berhasil diwawancarai:

Musyafak (jurnalis utusan dari ORA OPM desa Dringo, Blora) : “Keberadaan saya di Dian Sura masih tergolong baru sehingga belum memiliki banyak pengalaman dalam bidang jurnalistik. Saya masih memiliki banyak keterbatasan sebagai seorang jurnalis, seperti kurangnya kemampuan menulis, kesulitan mobilitas, sulitnya komunikasi, serta minimnya fasilitas yang dimiliki. Saya berharap untuk kedepannya nanti, baik dari para jurnalis maupun Dian Sura sendiri mampu meningkatkan profesionalisme para jurnalis sehingga mampu memproduksi Dian Sura yang bermutu dan mampu bersaing dengan surat kabar lainnya. Sudah saatnya Dian Sura mampu merebut perhatian para pembaca.”

Udin (jurnalis utusan dari PIKM Kudus) : “Untuk meningkatkan kualitas tim redaksi Dian Sura, perlu adanya sarana dan pra sarana diantaranya: pelatihan jurnalistik ulang karena belum semua anggota redaksi yang saat ini aktif pernah mendapatkan pelatihan itu. Sebab telah terjadi perombakan dalam tubuh redaksi Dian Sura. Selain itu, perlu dilakukan pelatihan mengetik sebuah berita karena tuntutan jaman dan teknologi yang semakin maju, maka perlu sekali pelatihan komputer bagi anggota Dian Sura dan tersedianya kamera digital untuk mendukung kelancaran pembuatan berita. Untuk masalah tehnik peminjamannya, setiap ORA yang mau menggunakan kamera harus menyertakan surat peminjaman yang jelas.”

Sutriman (tim lay out redaksi Dian Sura utusan PIKM Kudus) : “Terbitan dan penulisan dalam setiap edisi sudah baik namun, kedepannya perlu ditingkatkan lagi guna menghindari kejenuhan para pembaca. Biasanya penulisan berita dari kontributor sedikit membingungkan, baik dari segi bahasa maupun tulisan. Selain itu, redaksi foto sering terlambat bahkan terkadang tidak ada dokumentasi gambar untuk berita bersangkutan. Maka dari itu saya pribadi mengharapkan, perlu adanya peningkatan kemampuan dari segi penulisan dan pemilihan berita untuk masing-masing kontributor, penambahan kemampuan teknologi informasi dan komputer serta fotografi untuk tim redaksi dan kontributor. Untuk isi Dian Sura, perlu adanya pengelompokan berita dari masing-masing bidang sasaran pemberitaan ORA, dan saya mengusulkan adanya rubrik yang bisa menampung pertanyaan dari masing-masing ORA dan masyarakat umum mengenai bidang yang menjadi cakupan Dian Sura.”

Asnafi (jurnalis dari ORA KTKM desa Banyumanis, Jepara) : “Selama perjalanan mengikuti pencarian berita tentu sangatlah melelahkan, tapi juga ada kesenangan tersendiri bagi diri saya, yaitu saya mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru. Selama ini kesulitan yang didapat jika ada kegiatan yang akan dimuat berbenturan dengan kegiatan pribadi sehingga tidak bisa membuat berita secara maksimal. Diharapkan sebaiknya diadakan pelatihan lagi agar para jurnalis Dian Sura lebih bermutu dan berkualitas dalam penulisan berita.”

Sujono (jurnalis dari ORA Sumber Utami desa Solowire, Demak) : “Setelah 3 tahun di Dian Sura saya terbebani baik pikiran, tenaga, dan waktu. Setiap saya akan menulis berita, pasti ada masalah yang terjadi. Padahal dalam penulisan berita dituntut untuk bisa memberikan berita yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Dan juga ketika pertemuan rutin tim redaksi Dian Sura setiap 3 bulan sekali, saya harus datang ke sekretariat untuk mengedit berita yang akan diterbitkan, tanpa mengenal cuaca baik cuaca cerah maupun sedang buruk.  Selain itu, saya harus mendistribusikan buletin Dian Sura ke Puskesmas, kecamatan, Dinas Kesehatan, Polsek dan ke anggota ORA. Bagi saya, itu sangat merepotkan dan menyita waktu saya. Namun, saya sudah mempunyai komitmen sebagai seorang jurnalistik untuk tidak mengeluh dalam mencari berita yang layak dikonsumsi oleh masyarakat. Walau tidak digaji tapi saya tetap bersemangat dalam membuat berita Dian Sura. Harapan ke depan, Dian Sura tetap eksis dan tambah jaya, sehingga Dian Sura dapat bermanfaat bagi masyarakat yang membutuhkan media informasi.”

Sutiyar (jurnalis dari ORA Damarwulan Manunggal Jepara) : “Menjadi seorang wartawan memang tidak mudah karena harus membuat berita yang tepat, hangat, akurat dan dapat diterima oleh para pembaca. Untuk memenuhi itu semua diperlukan konsentrasi yang tinggi dan tersedianya banyak waktu luang. Seperti saya yang memiliki kesibukan sebagai petani dan akupresuris, setiap pagi saya harus ke sawah untuk bertani sedangkan sorenya saya melayani pasien yang ingin dipijat. Dan hanya ada waktu untuk membuat berita di malam hari. Menurut saya, waktu tersebut kurang efektif dalam membuat berita. Karena badan sudah capek, harus diistirahatkan justru dituntut untuk membuat berita. Namun, hal tersebut tidak menjadi halangan untuk saya untuk tetap membuat berita yang mampu menarik pembaca Dian Sura. Sebab itu merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya.”

Sutiyono (jurnalis perwakilan dari ORA OPS desa Bogem, Blora) : “Tidak terasa media komunitas Dian Sura sudah berjalan kurang lebih 3 tahun. Dari perjalanan yang cukup panjang ini tentu saya salah satu jurnalistik Dian Sura, sudah mendapatkan banyak pembelajaran yang berharga. Dian Sura sendiri hanya menyajikan berita-berita yang berkaitan dengan kegiatan yang berada di ORA. Dan mungkin juga itu dapat membuat kejenuhan bagi para pembaca. Namun, diharapkan melalui kegiatan tersebut dapat mendorong dan memberikan inspirasi bagi ORA untuk bisa maju dan berkembang. Untuk harapan kedepannya, semoga Dian Sura lebih baik dan para jurnalisnya pun mampu memberikan tulisan-tulisan yang baik sehingga para pembaca tidak jenuh. Perlu ada pelatihan kembali bagi para jurnalis sehingga dapat memberikan kualitas yang baik di setiap penulisan berita Dian Sura.”

Dlofier (jurnalis dari ORA Bakti Mandiri desa Papanrejo, Grobogan) : “Biasanya di saat ada pertemuan tim redaksi, sering berbenturan dengan kegiatan lain yang sama pentingnya, bahkan terkadang undangan dari instansi lain. Selain itu, jarak yang jauh dan medan yang sulit untuk mengambil berita dari ORA lain yang ingin mengirimkan berita ke Dian Sura. Dan apabila di musim penghujan bisa dibayangkan bagaimana medan untuk menuju kesana. Sedangkan untuk proses pengeditan jujur saja, dalam pembendaharaan kata dan pengetahuan di otak saya terbatas dan perlu adanya penyegaran kembali. Sehingga dibutuhkan pelatihan secara khusus dan apabila bisa, mohon dapat diwakilkan 2 orang sehingga bila yang satu berhalangan maka dapat diganti dengan yang lain. Dan satu lagi, saya sering memiliki beban mental, apabila tidak membuat berita. Seringnya diejek oleh teman-teman yang lain membuat mental saya turun.” (Tim redaksi)

Posted on 4 Maret 2011, in Media Komunitas. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: