Akupresuris Jawa Tengah Sudah Bisa Menangani Patah Tulang


Tulang merupakan penyangga utama tubuh manusia. Tanpa tulang, tubuh secara otomatis tidak bisa bergerak, berjalan atau melakukan aktivitas lainnya. Sebab, tulang memiliki fungsi sebagai alat gerak, melindungi organ-organ dalam, dan penopang tubuh. Bila terdapat tulang yang rusak, patah atau retak maka aktivitas seseorang tidak akan berjalan secara maksimal.

Biasanya, orang yang mengalami patah tulang akan berobat ke ahli tulang atau ke rumah sakit yang menangani patah tulang. Tentu saja, biaya yang dikeluarkan selama pengobatan tidak sedikit dan bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah akan terasa memberatkan mereka.

Pasien yang mengalami patah tulang seringkali pergi ke pengobatan alternatif untuk mencari ongkos berobat yang lebih murah. Para akupresuris di Jawa Tengah pun tak jarang juga mendapatkan pasien patah tulang. Namun sayangnya, para akupresuris alumni UPKM/CD RS Bethesda masih kesulitan menanganinya karena belum pernah mendapatkan pembelajaran khusus tentang penanganan kasus pasca patah tulang.

Melihat kebutuhan ini, maka pada 25 Oktober 2009 bertempat di Sekretariat UPKM/CD RS Bethesda wilayah Jawa Tengah, Perkumpulan Akupunkturis dan Akupresuris Pantura (PERANTARA) mengadakan Training Penanganan Patah Tulang.

Hadir sebagai narasumber pelatihan ini Eko Rusmiati dari UPKM/CD RS Bethesda Yogyakarta dan dokter Thomas Agus Santoso dari Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Training ini diikuti para akupresuris Jawa Tengah yang pernah mengikuti diklat Akupresur dasar.

Menurut Eko Rusmiati, hal-hal yang perlu dipahami dalam penanganan kasus patah tulang adalah rangka tulang manusia, metode pemijatan, titik akupresur yang khusus untuk tulang dan tujuan pemijatan. Secara umum, susunan tulang manusia terdiri dari tulang tengkorak, rangka tangan, dan rangka kaki. Ada banyak bagian tulang manusia yang rentan patah, seperti lengan atas, pengupil, hasta, selangka, paha, betis dan tulang kering.

Sedangkan metode pemijatan patah tulang berbeda dengan pemijatan penanganan penyakit lainnya. Pemijatannya hanya berupa metode mengurut dan menekan. Pemijatan tidak boleh dilakukan pada lokasi yang patah atau yang retak, tetapi dilakukan pada daerah proksimal (mendekati daerah patah tulang) atau pada daerah distal (menjauhi yang patah).

Tujuan penanganan kasus pasca patah tulang yaitu untuk mempercepat penyembuhan, mempercepat pertumbuhan tulang dan merelaksasi (mengendorkan) otot yang tegang.

Para akupresuris merasa sangat senang dan bangga mengikuti pelatihan ini, karena selama ini mereka hanya menangani penyakit, baik penyakit kronis maupun akut. Namun dengan pelatihan ini, terbukti akupresur juga mampu menangani kasus patah tulang. Dengan demikian melalui pijat akupresur, penderita patah tulang pun bisa dibantu proses pemulihannya.

Setelah pelatihan, diharapkan para akupresuris mampu menerapkannya dalam pelayanan kesehatan kepada masyarakat luas. Terus berjuang membangun masyarakat yang sehat secara tradisional tanpa menggantungkan pada obat-obatan kimia. (Sujono/ORA Sumber Utami)

Posted on 12 Maret 2011, in Pengobatan Tradisional. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: