Kewaspadaan Terhadap Demam Berdarah Perlu Dijaga


Apa itu nyamuk Aedes Aegypti? Bagaimana cara penularannya demam berdarah dan bagaimana pula cara pemberantasnya?

Itulah beberapa pertanyaan yang muncul saat Penyuluhan Pemberantasan Demam Berdarah yang dilakukan di beberapa Organisasi Rakyat (ORA) mitra UPKM/CD Bethesda wilayah Jawa Tengah beberapa waktu yang lalu. ORA yang melakukan penyuluhan yaitu Kelompok Tani Korban Banjir (KTKB) desa Deras, kecamatan Kedungjati, Grobogan, Himpunan Kelompok Petani Makmur (HKPM) desa Jatimudo, kecamatan Sulang, Rembang dan Bakti Mandiri desa Papanrejo, kecamatan Gubug, Grobogan.

Dalam penjelasannya kepada peserta dari ORA KTKB, Agus Toha dari P2M Puskesmas Kedungjati, Grobogan mengungkapkan ciri-ciri nyamuk aedes aegypti, antara lain tubuh dan kakinya belang-belang putih-hitam. Nyamuk ini aktif pada pagi dan sore hari, menyukai tempat yang lembab dan gelap, serta bertelur di air yang jernih.

“Nyamuk ini sangat berbahaya, bila menggigit seseorang, terutama anak kecil yang masih rentan, maka bisa menularkan demam berdarah karena kekebalan tubuhnya sangat lemah”, kata Agus Toha.

Kenapa nyamuk aedes aegypti sangat berbahaya dan perlu diwaspadai oleh siapa pun? Karena nyamuk ini membawa virus dengue yang menyebabkan demam berdarah (DB). Sewaktu menghisap darah orang yang sakit DB atau tidak sakit DB tetapi dalam darahnya mengandung virus dengue, maka virus dengue akan dipindahkan bersama air liurnya saat menggigit orang lain.

“Namun demikian, bila orang yang digigit mempunyai daya tahan tubuh kuat dan kekebalan cukup, maka virus dengue tidak bisa berkembang dalam tubuh orang itu,” katanya menjelaskan.

“Nyamuk yang menularkan virus dari satu ke orang lainya adalah nyamuk betina. Umur nyamuk ini mencapai 10-14 hari, tetapi dalam kondisi yang lembab bisa mencapai 2-3 bulan,” tambah Agus Toha dengan nada semangat.

Menurut Susi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang saat menjadi narasumber di ORA HKPM, tanda-tanda orang kena panyakit DB biasanya mendadak panas tinggi selama 2-7 hari, penderita tampak lemah dan lesu, dan muncul bintik-bimtik merah di kulit. “Hal ini disebabkan pecahnya pembuluh darah kapiler di kulit”, jelasnya.

Selain itu, penderita DB juga mengalami nyeri ulu hati akibat dari pendarahan di lambung, muntah atau berak darah, kadang-kadang terjadi pendarahan di hidung atau mimisen. “Bila sudah parah, penderita gelisah, nadi cepat tapi lemah, ujung tangan dan kaki dingin berkeringat,” katanya. “Bahkan bisa terjadi rejatan atau sock,” lanjutnya.

Adapun cara pertolongan pertama pada penderita DBD adalah memberikan minum sebanyak banyaknya dengan menggunakan air matang, susu, sari buah, oralit atau minuman lainya yang mangandung gizi. Penderita juga bisa dikompres badan atau kepala dengan air dingin. “Sebaiknya penderita segera dibawa le dokter, puskesmas atau rumah sakit terdekat”, kata Susi menyarankan.

Selama proses pengobatan, perlu diusahakan agar penderita cukup istirahat, makan dan minum yang bergizi, cukup karbohidrat dan terutama protein serta minum sebanyak banyaknya. “Perbanyak mengkonsumsi buah-buahan segar dan mengkonsumsi vitamin untuk peningkatan daya tubuh,” katanya.

Bagaimana cara pemberantasan dan pencegahan DB? Pemberantasan di daerah endemis adalah dengan cara pengasapan (fogging) untuk membunuh nyamuk dewasa, dan abatisasi untuk membunuh telur nyamuk. Selain itu, warga bisa menggunakan alat semprot nyamuk di rumah dan menaruh ikan pemakan jentik di bak penampungan air.

Untuk menghindari gigitan, bisa dengan pemolesan kulit dengan obat nyamuk. Cara pencegahan utama adalah dengan 3M (Mengubur, Menguras, Menutup), membuka pintu dan jendela rumah mulai pagi hingga sore hari, tidak manruh baju-baju di gantungan rumah, dan pengaturan pencahayaan rumah agar sinar matahari bisa masuk.

Tempat berkembang biak nyamuk aedes aegypti di tempat penampungan air yang tidak berhubungan langsung dengan tanah dan barang-barang yang memungkinkan air tergenang. Di samping itu, juga berkembang biak pada bak-bak mandi, tempayan, drum, padasan tempat wudlu, tempat minum burung, vas bunga, air tempat perangkap semut, ban bekas, pelepah tanaman, pagar bambu yang dipotong tidak tepat persis pada ruas, dan tempat yang memungkinkan air tertampung lainnya.

Agar tidak terkena penyakit yang sangat berbahaya ini, masyarakat harus lebih hati-hati dan waspada, terutama mengetahui cara menghindari dan mencegahnya. Masyarakat biasanya terlena karena nyamuk ini datangnya juga musiman pada saat musim hujan tiba.

Kasus DB biasanya terjadi pada bulan Oktober-April pada waktu musim hujan. Sehingga untuk pencegahanya setiap musim hujan perlu diadakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Dengan demikian masyarakat bisa terhindar dari penularan penyakit yang mematikan ini. (Diman)

Posted on 12 Maret 2011, in Penanggulangan Penyakit Menular. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: