ORA FKDG Belajar Budidaya Jamur Tiram


Makanan dari bahan jamur masih sedikit dikonsumsi masyarakat. Banyak orang tidak tahu manfaat jamur bila dikonsumsi secara rutin. Padahal jamur mengandung protein tinggi dan aman bagi mereka yang mengalami diabetes, kolesterol tinggi, darah tinggi. Bahkan, jamur tidak mengandung banyak lemak.

Guna memberikan pemahaman pada masyarakat tentang jamur, khususnya jamur tiram, Organisasi Rakyat Forum Komunikasi Desa Gowak (ORA FKDG), kecamatan Lasem, kabupaten Rembang bekerja sama dengan UPKM/CD Bethesda Jawa Tengah mengadakan sosialisasi tentang Budidaya Jamur Tiram. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 15 Maret 2010 di Balai Desa setempat.

Keinginan untuk mengembangkan budidaya jamur tiram di desa Gowak memang cukup beralasan karena di desa ini banyak tersedia sisa gergajian kayu. Sisa-sisa gergajian kayu yang terbuang inilah yang akan dimanfaatkan warga untuk media budidaya jamur tiram.

Narasumber yang hadir dalam acara ini yaitu Farida, dosen dari Universitas Muria Kudus (UMK). Dalam penjelasannya kepada sekitar 30 peserta yang hadir, Farida mengungkapkan, budidaya jamur tiram juga bisa memberi keuntungan ekonomi.

“Di samping untuk kesehatan, jamur tiram juga bisa mendatangkam hasil ekonomi yang  lumayan bagus karena harganya relatif mahal,” katanya. “Bagi yang bisa mengolah, jamur tiram bisa dibuat beraneka macam menu yang sangat digemari banyak orang,” tambahnya.

Lebih lanjut, Farida menjelaskan di Jepang banyak orang menjadi hidup panjang di antaranya karena mengkomsumsi jamur. Ada orang yang sakit jantung disarankan mengkonsumsi jamur tiram dan lambat laun penyakit jantungnya bisa sembuh total. Selain jamur tiram, orang Jepang lebih banyak mengkonsumsi tempe, karena menurut tempe banyak mengandung protein yang sangat tinggi yang hampir sama dengan jamur tiram.

“Lain dengan di Indonesia, tempe dianggap makanan yang sangat rendah proteinnya karena harganya murah,” katanya prihatin.

Dalam kesempatan itu, Farida juga menjelaskan komposisi media yang dibuat jamur tiram terdiri dari serbuk gergaji 100 kg, bekatul 10-20 kg, kapur 0,5-2 kg, semen putih 1,5 kg, kompos 1,5 kg, dan kadar air 40-65 %.

Cara pembuatannya, semua bahan diaduk sampai rata, dimasukan dalam plastik lalu dimasak antara 5-8 jam. Setelah dingin baru diberi bibit jamur. Lalu disusun berjajar di tempat yang dibuat dari belahan bambu. Untuk menjaga kelembapan udara, bisa memasang karung goni yang dibasahi terus menerus dengan perawatan yang tepat. Jamur sudah bisa dipanen mulai satu bulan sampai empat bulan.

“Budi daya jamur tiram di samping sebagai obat yang berkhasiat ternyata juga untuk pengganti lauk pauk yang lezat dan gurih,”ujar Bazar, salah seorang pengurus ORA FKDG.

“Harapan kami dengan adanya pelatihan ini, jamur tiram bisa berkembang dan bisa dibudidayakan sampai pada anak cucu kita nanti sebagai simbol ORA FKDG bisa menjamur di desa Gowak dan sekitarnya,” katanya. Selamat mencoba…!  (Bazar/ORA FKDG)

Posted on 12 Maret 2011, in Ekonomi Rakyat. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: