Organisasi Peduli Masyarakat (OPM) Siap Membangun Komunitas Sehat


Awal Februari 2010 lalu, UPKM/CD RS Bethesda wilayah Jawa Tengah mengembangkan wilayah pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah Blora. Berdasar hasil survei lapangan, dengan melihat kriteria yang ada maka terpilihlah desa Dringo, kecamatan Todanan menjadi mitra baru.

Desa yang relatif masih sulit dijangkau dengan akses transportasi umum ini memiliki problem kesehatan, seperti sanitasi lingkungan yang kurang sehat. Pemahaman tentang kesehatan masyarakat juga masih rendah.

Sementara di sisi lain, banyak potensi pertanian, seperti kotoran ternak yang belum dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Beberapa hal inilah yang melatarbelakangi terjadinya kerjasama antara UPKM/CD RS Bethesda dengan masyarakat di desa Dringo.

Sebelum bermitra dengan UPKM/CD RS Bethesda, di desa Dringo sudah ada kelompok tani dengan nama Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Subur Jaya. Gapoktan yang diketuai Bambang Suyono inilah yang memprakarsai diadakannya Participatory Rural Appraisal (PRA) atau penilaian desa secara partisipatif pada pada 8-9 Februari 2010.

Hasil dari PRA ini terjadi kesepakatan peserta untuk membentuk Organisasi Rakyat sebagai mitra UPKM/CD RS Bethesda dengan nama Organisasi Peduli Masyarakat (OPM). Selanjutnya terpilih pengurus inti dengan ketua Sunandar, sekretaris Muhammad Sholeh dan seorang Bendahara.

Seakan mendapat tambahan semangat, para petani muda yang tergabung dalam OPM ini semakin mantap untuk memajukan desanya. Kenapa demikian? Kemitraan dengan UPKM/CD RS Bethesda membawa harapan adanya kemajuan desa Dringo terutama di bidang kesehatan dan juga memberikan solusi yang tepat terhadap permasalahan yang sering terjadi.

Masyarakat diharapkan lebih paham tentang kesehatan karena kesehatan tidak hanya mencangkup kesehatan secara fisik namun juga sehat dari segi psikis, lingkungan, batiniah, perekonomian, dan sebagainya.

“Sudah lama kami berusaha keluar dari masalah-masalah yang melanda desa kami,” ungkap Bambang Suyono menanggapi terjalinnya kerjasama ini.

“Selama ini kami belum menemukan teknik yang jitu untuk keluar dari permasalahan tersebut. Padahal, kami sudah melakukan koordinasi dengan berbagai instansi atau dinas-dinas terkait,” lanjutnya.

Bagi Bambang, kerjasama yang terjalin ini merupakan angin segar bagi masyarakat di desanya untuk bisa memecahkan masalah yang ada, minimal di bidang kesehatan dan pertanian. “Kami siap membangun komunitas sehat di desa ini,” katanya.

Saat kegiatan PRA, Sukendri Siswanto, selaku Area Manager UPKM/CD RS Bethesda wilayah Jawa Tengah, memberikan penjelasan tentang program-program yang dilakukan oleh lembaganya. UPKM/CD RS Bethesda merupakan salah satu lembaga kesehatan yang melakukan upaya pemberdayaan kesehatan masyarakat dengan mengacu pada Deklarasi Alma Ata.

Deklarasi yang dicanangkan tahun 1978 oleh 143 negara di kota Alma Ata, Rusia (Uni Soviet waktu itu) ini menegaskan kesehatan sebagai hak asasi manusia dan pentingnya terciptanya keadilan di bidang kesehatan.

Sukendri juga menyebutkan adanya fenomena saat ini yang perlu diperhatikan, yaitu keberadaan pelayanan yang diberikan rumah sakit cenderung bersifat kuratif dan biaya yang dikeluarkan untuk kesehatan cenderung mahal. Hal ini sangat menghambat pemenuhan hak kesehatan, terutama bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah.

Keprihatinan inilah yang mendorong UPKM/CD RS Bethesda melaksanakan program kesehatan masyarakat dengan motto Rumah Sakit Tanpa Dinding. Strateginya adalah melalui pemberdayaan masyarakat agar mampu membangun sistem kesehatan di komunitasnya sendiri.

“Masyarakat perlu diajak untuk lebih meningkatkan kepeduliannya terhadap masalah kesehatan,” jelasnya. “Sebenarnya, masyarakat bisa membuat sendiri obat-obatan tradisional yang bahan-bahannya tersedia di sekitar kita.”

Menurut Sukendri, tanaman empon-empon seperti kunyit, jahe, temulawak, temugiring, atau jenis tanaman seperti sambiloto, brotowali, sangketan dan lain-lain, merupakan bahan-bahan dasar pembuatan obat tradisional yang bermanfaat menjaga kesehatan tubuh. Keunggulan obat tradisional tidak kalah dengan obat kimia dan efek sampingnya pun relatif rendah. Proses pembuatannya pun sangat mudah dan bisa dilakukan oleh siapa pun.

Tidak hanya dalam pengobatan tradisional, upaya peningkatan kesehatan masyarakat perlu dilakukan dengan program-program yang terpadu. Terpadu artinya tidak hanya menggarap salah satu sisi saja, misalnya hanya kuratif atau pengobatan, namun sisi preventif atau pencegahan juga perlu dilakukan. Misalnya, pengadaan sanitasi dengan program WC bergulir, pendidikan tentang berbagai jenis penyakit menular yang bisa berakibat Kejadian Luar Biasa (KLB), pengembangan pemahaman tentang pertanian organik, dan sebagainya.

Melalui kerjasama ini, OPM berharap dapat membangun desa Dringo dan membawa masyarakat paham tentang arti kesehatan secara komprehensif untuk menuju desa yang sehat. (Musyafak/OPM Blora)

Posted on 12 Maret 2011, in Pemberdayaan Masyarakat. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. pak saya mau tanya klo mau gabung di komunitas peduli masyarakat gimana caranya soalnya saya sangat tersentuh ingin memperjuangkan masyarakat yg ada di wilayah saya makasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: