Pupuk Bokasi Banyak Manfaatnya


Kudus memang terkenal dengan daging kerbau. Salah satu sentra peternakan kerbau ada di dukuh Karangturi, desa Setrokalangan, kecamatan Kaliwungu. Hampir 90 persen keluarga yang ada memiliki kerbau. Tiap keluarga rata-rata tiga sampai lima ekor kerbau.

Tak heran jika kotoran hewan tersebut melimpah ruah. Namun sayang, kotoran kerbau belum dimanfaatkan secara optimal oleh para petani untuk memupuk tanaman. Kotoran kerbau itu hanya menumpuk sia-sia di sekitar kandang.

Meski pemerintah telah menganjurkan petani untuk beralih ke pertanian organik dan banyak pabrik pupuk memproduksi pupuk organik, namun masyarakat tidak semakin sadar untuk memanfaatkan kotoran hewan sebagai pupuk.

Belakangan, kotoran kerbau itu justru dijual ke tengkulak untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pupuk organik di pabrik pupuk. Harga kotoran kerbau dihargai relatif murah, yakni antara 70 ribu sampai 90 ribu rupiah per truk. Sedangkan untuk ukuran colt dibeli dengan harga 25 ribu rupiah.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan para petani di Karangturi belum memanfaatkan kotoran hewan sebagai pupuk. Antara lain karena minimnya pengetahuan petani tentang pupuk kandang atau pupuk organik.

Meski ada petani yang tahu tentang pembuatan pupuk organik namun malas membuat sendiri atau mempraktekkannya, sebab ada pupuk kimia buatan pabrik yang lebih praktis dan murah karena bersubsidi. Selain itu, ada yang gengsi dan takut dicibir atau dicemooh tetangga karena disangka tidak bisa membeli pupuk kimia.

Melihat kondisi ini, Organisasi Rakyat Perhimpunan Petani Suka Makmur (ORA Peta Sukma) bertekad menyadarkan warga akan pentingnya pupuk organik dalam pertanian. Sehingga pada 17 Oktober 2009 ORA Peta Sukma bekerjasama dengan UPKM/CD Bethesda mengadakan Training Pertanian Organik, khususnya untuk pembuatan pupuk bokasi (bahan organik kaya nutrisi). Pelatihan ini diadakan di rumah Subagyo dengan mendatangkan Parsudi dari ORA Himpunan Kerukunan Tani Mulyo (HKTM) desa Keben, Pati sebagai narasumber.

Peserta nampak antusias mengikuti jalannya pelatihan. Tanya jawab dan berbagi pengalaman meramaikan acara tersebut. Sumaji, salah seorang peserta, mengaku pernah menggunakan pupuk kandang. Berdasar pengalamannya menggunakan pupuk kandang, meski tanaman bisa tumbuh subur namun rumputnya juga subur.

Sedangkan Kaselan, ketua ORA Peta Sukma, menyatakan petani belum ingin beralih ke pupuk organik karena masih ada pupuk kimia. Parsudi pun menanggapi pernyataan-pernyataan peserta tersebut dan memberikan penjelasan tentang bertani organik dan pupuk bokasi.

Parsudi menerangkan bahaya penggunaan pupuk kimia. Bahaya yang ditimbulkan antara lain tanah semakin gersang dan tidak subur, berkurangnya unsur hara dalam tanah, tanaman mudah terkena penyakit. “Lebih bahaya lagi, apabila kita memakan hasil tanaman yang menggunakan pupuk kimia maka bahan-bahan kimia tersebut akan masuk juga ke dalam tubuh kita, sehingga dapat merusak kesehatan tubuh,” katanya.

Penggunaan pupuk kimia juga tidak efisien, sebab bila tahun ini menghabiskan 1 kuintal pupuk kimia maka tahun berikutnya akan menghabiskan 1,5 kuintal dan seterusnya. Penggunaan berlebihan seperti itu sangat merugikan petani dan akan merusak kesuburan tanah.

Ibarat air mineral dalam kemasan gelas plastik, bila diminum airnya maka gelas plastik akan menjadi sampah yang berserakan. Demikian pula dengan pupuk kimia  buatan pabrik, jika unsur di dalam pupuk sudah habis maka yang tinggal hanya wadahnya yang berserakan di sawah dan menyebabkan tanah gersang dan tandus serta mati tanpa ada unsur hara.

Oleh sebab itu, Parsudi menganjurkan petani agar beralih menggunakan pupuk bokasi. Menurut Parsudi, banyak manfaat dari penggunaan pupuk bokasi, antara lain menyuburkan dan memperbaiki PH tanah, meningkatkan daya tumbuh tanaman, menghambat penyakit dalam tanaman, meningkatkan hasil tanaman, serta hasil panen berbobot dan bebas kimia. “Bokasi banyak mengandung zat makanan untuk tanaman,” terangnya.

Parsudi juga menjelaskan, pupuk bokasi tidak seperti pupuk kandang biasa. Dia menjamin penggunaan bokasi tidak akan menimbulkan tumbuhnya rumput seperti kalau menggunakan pupuk kandang.

Cara pembuatannya sangat mudah dan bisa dilakukan oleh siapapun. Bahan-bahan yang perlu disiapkan yaitu kotoran hewan, dedak, jerami atau sekam, gula pasir atau tetes tebu, EM4 organik, dan air secukupnya. Semua bahan dicampur menjadi satu dan diaduk, lalu tutup dengan karung goni atau kadot. Usahakan tinggi adukan kurang lebih 35 centimeter. Proses penutupan akan berlangsung selama tujuh hari dan setiap sehari sekali dibuka. Jangan terkena langsung sinar matahari.

Selain pupuk bokasi, Parsudi juga menjelaskan cara pembuatan mol bonggol pisang, pemanfaatan urine manusia (urima), pupuk organik, dan pestisida alami.

Melalui pelatihan ini petani Karangturi diharapkan sadar bahaya penggunaan pupuk kimia dan beralih ke pupuk organik. Sudah saatnya kembali ke alam agar bumi tidak menjadi gersang dan panas serta menghindari ancaman kelaparan.(Ariyadi/ORA Peta Sukma)

Posted on 21 Maret 2011, in Pertanian Organik. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: