HEWAN JUGA PERLU SEHAT


Menjaga kesehatan tidak hanya berlaku bagi manusia, tetapi bagi hewan juga penting. Hewan yang sehat bisa membuat penghasilan sampingan yang memuaskan untuk memenuhi kebutuhan  hidup.

Tidak semua peternak memahami cara merawat kesehatan hewan yang baik. Salah satu contoh, warga desa Banyumanis, kecamatan Donorojo, kabupaten Jepara, disamping sebagai sebagai nelayan, sebagian besar juga beternak sapi dan kambing sebagai pekerjaan sambilan. Namun sayangnya, belum banyak warga yang mengerti cara beternak sapi dan kambing yang baik.

Hal ini terbukti banyak sapi yang mati karena sakit. Akibatnya, para makelar sapi yang menjadi lantaran jual beli sapi membeli sapi yang sakit dengan harga lebih murah. Kalau begini siapa yang rugi? Petani-petani kecil yang selalu rugi dan menjadi sasaran empuk bagi calo.

Menghadapi persoalan yang seperti ini, Organisasi Rakyat Kelompok Tani Klakah Makmur (ORA KTKM) bekerja sama dengan UPKM/CD RS Bethesda wilayah Jawa Tengah berinisiatif mengadakan Sosialisasi tentang Kesehatan Hewan dan Cara Beternak Sapi. Kegiatan ini diadakan pada tanggal 2 Desember 2010 bertempat di rumah Asnafi, salah satu anggota ORA KTKM. Sosialisasi ini diikuti 30 orang.

Beberapa pokok materi yang disampaikan Sujiyo dari Yapapa Yakkum Solo sangat bermanfaat bagi peternak sapi dan kambing. Menurut narasumber, ada beberapa prinsip cara beternak sapi yang baik dan benar, antara lain persiapan pakan, seperti penanaman  rumput dan pengumpulan jerami. Persiapan ini biasanya dilakukan sebelum membeli sapi.

Selanjutnya, pembuatan kandang dengan aturan untuk betina sebaiknya lantainya menurun ke belakang dan untuk jantan sebaiknya dipisah. Kalau masih satu kadang diberi jarak sekitar satu meter. Langkah berikutnya, barulah pemilihan bibit jantan jika ingin penggemukan atau betina untuk pengembang biakan.

Sebaiknya dibuatkan tempat kotoran untuk pembuatan pupuk organik. Sujiyo menyarakan agar kebersihan kandang setiap hari, baik pagi dan sore atau setiap ada kotoran langsung dibuang. “Hal ini untuk menjaga agar sapi tidak sakit,” jelasnya.

Bila sapi yang dipelihara adalah sapi betina maka bisa dilakukan IB (Inseminasi Buatan) atau kawin suntik. Tanda-tanda sapi yang birahi antara lain mengeluarkan lendir putih jernih, vaginanya merah memar dan kalau dipegang hangat. “Ada juga sapi yang terus menerus bersuara dan tidak mau makan,” terangnya.

Waktu yang tepat untuk mengawinkan, menurut Sujiyo, 18 jam setelah keluar lendir terakhir. Sementara umur kebuntingan dan melahirkan sekitar sembilan bulan lebih beberapa hari atau kurang lebih sepuluh hari. Setelah itu perlu diperhatikan umur penyapihan dan waktu untuk kawin lagi.

“Prinsip-prinsip ini penting diperhatikan oleh peternak agar bisa mengsilkan ternak yang lebih baik,” kata Sujiyo mantap.

Di Donorojo termasuk memiliki potensi ternak sapi dan kambing. Tetapi kebanyakan masyarakat kurang memperhatikan bagaimana tanda-tanda sapi yang siap kawin dan waktu yang tepat untuk dikawinkan serta cara perawatanya. Setelah diadakan sosialisasi, peserta bisa lebih mengetahui cara beternak sapi yang baik dan menghasilkan keuntungan yang lebih baik dari sebelumnya.

Selama ini banyak peternak yang mengawinkan sapinya sampai delapan kali suntik. Padahal sekali suntik mereka harus mengeluarkan biaya Rp 50.000. “Coba bayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan peternak sapi untuk mengawinkan, sedangkan biasanya mantri kawin suntik mengatakan ‘kalau saya diundang ya saya datang’,” komentar salah seorang peserta.

Sudi (49), salah satu anggota ORA KTKM juga mengeluhkan pelayanan mantra selama ini. Sebab, pernah sapinya mengalami kehamilan tujuh bulan dan untuk memastikannya Sudi bertanya kepada mantri kawin suntik. Namun, menurut sang mantri, sapinya tidak ada isinya dan minta kawin. Saat itu juga sapi itu diberi IB. Anehnya, tiga bulan kemudian ternyata sapi itu melahirkan. “Hal ini merupakan bentuk pelayanan kepada peternak yang tidak komprehensip dan terkesan membodohi,” keluhnya.

ORA KTKM menginginkan agar pemerintah, khususnya Dinas Pertanian dan Peternakan, lebih memperhatikan kinerja para mantri kawin suntik dalam pelayan kepada peternak sapi dan tidak hanya mengedepankan aspek bisnis kawin suntik ini.

Peserta berharap ada tindak lanjut dan pelatihan kader kesehatan hewan. Sehingga bila ada masalah kesehatan ternak di desanya, para kader ini bisa mengatasi dengan baik tanpa harus melibatkan pihak lain.

Peternak akan merasa puas jika hewan peliharaannya sehat dan memperoleh nilai ekonomi yang memadai sehingga bisa menunjang hidup sehat dan sejahtera bagi petani. (Asnafi/ORA KTKM)

Posted on 3 April 2011, in Pertanian Organik. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: