KAPSUL, OBAT TRADISIONAL YANG PRAKTIS DAN TAHAN LAMA


Dunia ini dari masa ke masa mengalami perubahan yang kian maju. Perubahan – perubahan ini terjadi karena pola hidup dan peningkatan sumber daya manusia. Perubahan terjadi di berbagai sektor, antara lain, pertanian, perindustrian, kesehatan, dan sebagainya. Salah satu kemajuan di bidang kesehatan yaitu keberadaan obat tradisional yang semula direbus, kini bisa ditemukan dalam bentuk kapsul.

Indonesia memiliki lebih kurang 30.000 spesies tumbuhan dan 940 spesies di antaranya tumbuhan berkhasiat. Namun, baru sekitar 180 spesies yang telah dimanfaatkan oleh industri  jamu tradisional. Jamu ini merupakan potensi pasar obat herbal atau obat tradisional.

Penggunaan bahan alam sebagai obat tradisional di Indonesia telah dilakukan nenek moyang sejak berabad-abad yang lalu. Terbukti dari adanya naskah lama pada daun lontar husodo di Jawa, lontar usodo di Bali, lontarak pabbura di Sulsel, atau relief candi Borobudur yang menggambarkan orang sedang meracik obat ( jamu ) dengan tumbuhan sebagai bahan bakunya.

Namun, obat tradisional yang digunakan umumnya masih berupa rebusan dan pada musim –musim tertentu bahan obat obatan tersebut sulit dicari. Oleh sebab itu, dalam perkembangannya, para pakar yang berkompeten mencari dan mempelajari cara pembuatan obat tradisional yang lebih praktis dan tahan lama. Maka dibuatlah dalam bentuk kapsul yang lebih mudah diminum dan tidak menyita ruang karena bentuknya praktis dan mudah dibawa ke mana-mana.

Guna mempelajari ketrampilan ini, pada 22 November 2010 lalu Organisasi Petani Sejahtera (OPS) desa Bogem, kecamatan Japah, kabupaten Blora, mengadakan Pelatihan Pembuatan Kapsul Batra. Kegiatan ini dilaksanakan di rumah Sutikno (50), ketua OPS, dan dihadiri 23 peserta. Mereka berasal dari anggota ORA OPM desa Dringo dan OPS sendiri. Narasumber yang hadir yaitu Sudiman dan Choirul Anang dari UPKM/CD Bethesda wilayah Jawa Tengah.

Pertama-tama kedua nara sumber melakukan sesi tanya jawab dengan peserta tentang jenis-jenis tanaman obat apa yang dikenal di lingkunganya dan kegunaannya. Beberapa jenis tanaman obat yang dikenal antara lain sambiloto, kumis kucing, suruh-suruhan, salam, pace, dan sebagainya.

Narasumber juga menjelaskan cara memilih bahan melalui proses pensortiran basah dan kering, pencucian, perajangan, pengeringan, dan penyimpanan yang benar.

Tahap pembuatan kapsul dimulai dari pemilihan bahan-bahan tanaman yang sudah dipilih dengan baik dan disesuaikan dengan jenis penyakitnya. Misalnya, kapsul untuk penyakit hipertensi, bahan yang dipilih adalah buah mengkudu atau pace yang sudah dibuat serbuk (100 gram) sebagai bahan utama, daun sambiloto (100 gram) sebagai bahan utama dan daun kumis kucing (50 gram) sebagai bahan tambahan.

Sedangkan bahan untuk penyakit asam urat terdiri dari daun kepel (100 gram) sebagai bahan utama, daun suruh-suruhan (100 gram) sebagai bahan utama dan daun kumis kucing (50 gram) sebagai bahan tambahan.

Proses pembuatannya, bahan utama dicampur dengan bahan tambahan dimasukan dalam toples kaca, diberi air sebanyak 875 ml dan alkohol 875 ml. Bahan kemudian diaduk hingga tercampur. Lalu tutup toples rapat-rapat dan biarkan selama 5 hari baru disaring dengan kain untuk mendapatkan air sarinya yang sudah mengendap pada larutan air dengan alkohol.

Air hasil penyaringan lalu ditaruh dalam panci stenlis, kemudian dikukus dengan cara infundasi dengan suhu api 90oC, tidak boleh dengan suhu 100oC. Selama dikukus lebih kurang satu jam, air sari diaduk-aduk agar tidak terjadi kerak di panci. Setelah airnya hampir mengental lalu dimasukkan tepung amilum atau tepung sari jagung.

Aduk terus hingga adonan kering dan menjadi serbuk kembali. Guna menghasilkan serbuk yang baik, bisa diblender dulu agar lebih mudah dimasukan dalam kapsul.

Serbuk yang dihasilkan lalu dimasukan dalam kapsul. Cara memasukan serbuk dalam kapsul memang tidak semudah yang dibayangkan. Butuh ketelitian ,dan kesabaran. Hal ini juga dialami beberapa peserta yang setelah sekian kali mencoba ada yang menyerah. Namun, banyak peserta lain yang bisa dengan mudah melakukannya.

Selain praktek pembuatan kapsul, peserta juga diajari cara membuat salep dan balsam. Semuanya bisa diselesaikan peserta. Mereka bisa membuktikan ternyata membuat obat tradisional bisa dilakukan siapa saja dan bahan-bahannya pun mudah didapatkan di sekitar. Apalagi obat tradisional ini banyak manfaatnya, tidak kalah dengan obat buatan pabrik.

Semoga batra dalam bentuk kapsul ini bisa berkembang dan diminati masyarakat, karena efek sampingnya lebih kecil dari pada obat kimia. Batra juga telah diakui oleh pemerintah, baik melalui undang-undang dan dengan dibangunnya Hortus Medikus di Tawangmangu tahun 1947 yang sekarang berubah menjadi BPTO (Balai Penelitian Tanaman Obat). (Yono/ORA OPS)

Posted on 3 April 2011, in Pengobatan Tradisional. Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Agus Dwi Sunyoto

    pak saya mau tanya: Proses pembuatannya, bahan utama dicampur dengan bahan tambahan dimasukan dalam toples kaca, diberi air sebanyak 875 ml dan alkohol 875 ml. pak apakah bahan utama dan bahan tambahan dimasak dulu atau tidak ? sebelum dimasukkan dalam toples?. pak apakah harus dengan alkohol? berapa %? apakah ada penggantinya? karena sekarang mau beli akohol dilarang.

    kemudian dikukus dengan cara infundasi dengan suhu api 90oC, tidak boleh dengan suhu 100oC. pak dikukus dengan cara infundasi itu bagaimana? mohon penjelasannya.
    Terimakasih, sebelumnya.

    • pak agus, bahan utama dan bahan tambahan dimasukkan dalam toples dan diberi air serta alkohol sesuai ukuran, dibiarkan selama 5-7 hari, kemudian diperas dengan menggunakan kain agar keluar airnya. Air perasan inilah yang kemudian dikukus dgn teknik infudasi (agar suhu tidak mencapai 100 derajat). Proses infudasi : wajan (bukan yg aluminium) ditaruh diatas baskom yg berisi air, posisi ini diletakkan diatas kompor (biarkan air dalam waskom/panci mendidih dulu baru wajan berisi cairan bahan ditaruh di atasnya). Kadar alkohol 98% beli di toko bahan kimia.

  2. . pak apakah pemakaian alkohol itu wajib pada saat membuat obat ini?, atau boleh tanpa menggunakan alkohol.?

    • Dengan cara infundasi saja bisa, caranya bahan berupa jamu serbuk/simplisia yg sudah disiapkan (misal 150gr) dimasukan ke panci A dan tambah air sebanyak 1 L, lalu siapkan panci B yg diisi air secukupnya hingga panci A terendam. Kemudian dipanaskan 15 menit, dihitung mulai suhu di panci A mencapai 90°C dan saring selagi panas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: