MENJADI RELAWAN AMBULAN DESA BUTUH KETULUSAN


Ketersediaan ambulan desa dalam mewujudkan desa sehat tidak harus berupa armada mobil. Orang yang bersedia menjadi relawan dengan sepeda motor pun bisa dikatakan ambulan. Mengapa dibutuhkan relawan ambulan desa?

Di zaman yang serba materialistis ini, segala sesuatu seolah diukur dengan materi saja. Dalam realitas di masyarakat, sering dijumpai bantuan seseorang dinilai sebagai jasa yang harus mendapatkan imbalan berupa uang. Bila tidak ada imbalan, maka bantuan urung diberikan.

Namun penilaian itu tidak seluruhnya benar, sebab ternyata masih ada juga orang yang bisa berbuat baik demi meringan beban orang lain tanpa berpikir soal imbalan uang yang diterima.

Ada dua sosok yang bisa menjadi contoh orang yang banyak memberikan jasa kepada warga masyarakat sebagai ambulan desa. Keduanya selalu melakukan dengan senang hati tanpa pamrih. Salah satunya adalah Prasetyaningsih (38) yang biasa dipanggil akrab Ning.

Dia adalah salah satu anggota Organisasi Rakyat (ORA) Sumber Utami yang beralamat di desa Solowire, kecamatan Kebun Agung, kabupaten Demak. Ning menuturkan, melakukan kegiatan sosial memang tidak mudah, karena tidak semua orang mau membantu orang lain tanpa disertai imbalan. Contohnya seperti yang dilakukannya saat menolong orang lain yang sedang sakit untuk diantar ke tempat pengobatan, baik pengobatan medis maupun tradisional.

“Hal ini menurut saya, bisa dikatakan relawan ambulan,” kata Ning. “Seseorang yang mau berjuang untuk menolong orang lain yang sedang sakit, sudah bisa dianggap relawan ambulan,” jelasnya.

Meski sebetulnya setiap orang bisa melakukanya, tapi kadang karena sikap egois, orang yang dimintai tolong oleh sanak saudara dan tetangganya sering banyak alasan. “Bahkan, kadang orang mau menolong karena ada pamrihnya,” kata Ning.

Ning sering dimintai tolong sanak saudara dan tetangganya untuk membantu mengurus pasien peserta Jamkesmas, mengajak secrening TB orang yang terkena batuk sampai mendapat obat paket, mengantarkan pasien ke puskesmas dan ke rumah sakit. Walau dengan sepeda motor seadanya, Ning sangat cekatan kalau dimintai tolong dan itupun dilakukan tanpa pamrih.

Dia  beranggapan bahwa menolong  itu merupakan kewajiban orang hidup di dunia yaitu saling tolong menolong dengan sesama untuk meringankan beban penderitaan orang lain. “Sebab orang sakit merupakan sebuah penderitaan,” katanya.

Menjadi relawan ambulan desa bisa diartikan orang yang mau menolong orang lain ke tempat kesehatan, seperti puskesmas, rumah sakit, maupun tenaga kesehatan tradisional. “Yang penting kita mau menolong dengan rasa ikhlas dan tulus, supaya bisa meringankan beban penderitaan orang lain,” kata Ning.

“Saya menghimbau kepada masyarakat di mana saja berada, tolonglah orang lain dengan tulus dengan potensi serta talenta apa yang diberikan Tuhan kepada kita,” pesannya.

Kegiatan serupa juga dilakukan laki-laki bernama lengkap Ahmad Sholeh (29). Dia adalah salah satu anggota Organisasi Peduli Masyarakat (OPM) di desa Dringo, kecamatan Todanan, kabupaten Blora. Sholeh, demikian sekretaris OPM ini biasa dipanggil, adalah anak pertama dari empat bersaudara yang tinggal di RT 03 RW 02 desa Dringo.

Sosoknya sederhana. Rumah yang ditempatinya juga terbilang sangat sederhana. Namun, di balik semua itu, hatinya sangat mulia dan lembut tutur katanya. Sholeh mau membantu masyarakat yang membutuhkannya.

Kebiasaan menolong orang lain yang membutuhkan ini memang sering dilakukan sejak waktu di pondok pesantren. Menurut Sholeh, menolong orang sebenarnya mudah, tapi harus didasari dengan rasa ikhlas. Di samping mendapat pahala, menolong juga tidak ada ruginya. “Siapa tahu, giliran kita minta pertolongan juga mudah mendapat pertolongan,” tandasnya.

Walaupun sibuk dengan kegiatan lain, namun Sholeh tetap mau membantu dengan senang hati, karena menurutnya perbuatan itu adalah salah satu bagian dari ibadah. Jangan ditanya soal upah, karena Sholeh mengaku melalukannya karena panggilan hati. “Jika  orang yang dibantu sudah selesai masalahnya, rasanya lega,” ungkapnya.

Salah satu pengalamannya saat membantu Sugiyanto (34) yang menderita penyakit kusta. Sholeh mengantarkannya berobat ke puskesmas satu minggu sekali untuk memperoleh pengobatan rawat jalan. Pasaien kusta memang harus mendapatkan pengobatan rutin dari puskesmas sampai dinyatakan sembuh. Sarana kendaraan yang dipakai cukup dengan sepeda motor. “Saat ini si pasien sudah bisa dikatakan berangsur-angsur sembuh,” ungkapnya.

“Prinsip saya, orang sakit adalah orang yang tidak berdaya dan berharap mendapat pertolongan,” kata Sholeh. “Jika kita memberikan pertolongan dengan didasari niat yang baik dan iklas, Tuhan pasti membalasnya dengan kebaikan pula.”

Orang-orang yang mau bertindak seperti Prasetyaningsih dan Ahmad Sholeh sebagai relawan ambulan desa perlu dicontoh. Walau dengan armada seadanya, ternyata bisa membantu meringankan penderitaan orang lain yang sedang sakit. Mereka sudah ikut berperan mengurangi resiko kematian di Indonesia. (Musyafa’/ORA OPM dan Sujono/ORA Sumber Utami)

Posted on 3 April 2011, in Pemberdayaan Masyarakat. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. HEEE….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: