PERANTARA LAYANI PIJAT AKUPRESUR PASCA ERUPSI MERAPI


Tidak terbayangkan betapa pilunya nasib yang dialami warga Sleman (DIY), Klaten, dan Magelang (Jawa Tengah) di sekitar Gunung Merapi. Erupsi gunung berapi ini beberapa waktu lalu memaksa puluhan ribu orang harus mengungsi ke tempat yang aman untuk menyelamatkan diri. Dengan membawa barang seadanya mereka menuju ke tempat yang lebih aman.

Konon, mereka tidak hanya mengungsi satu kali, tapi berpindah-pindah 3-4 kali. Hal ini disebabkan semburan awan panas yang kian jauh jangkauannya ke desa-desa yang sebelumnya masih dikategorikan aman. Semua isi rumah, tanaman, pepohonan, hewan, bahkan manusia yang tidak sempat menyelamatkan diri disapu habis tanpa kenal ampun.

Mbah Marijan, selaku juru kunci Gunung Merapi, yang selama ini menjadi panutan warga setempat pun tidak mampu menolaknya dan bahkan meninggal bersamaan dengan semburan awan panas.

Apa yang melatarbelakangi ‘marah’nya Merapi…..? Sebagai salah satu gunung teraktif di dunia, Merapi memang punya kekuatan untuk memuntahkan lahar dan awan panas dalam jumlah yang besar. Di sisi lain, manusia juga harus sadar akan kebesaran Tuhan dengan segenap ciptaanNya dan bisa mensyukuri atas segala kenikmatan yang selama ini diterima. Sifat sombong dan mendahului kehendak Tuhan Yang Maha Esa harus ditiadakan. Semua itu bisa menjadi pelajaran berharga bagi warga di sekitar Merapi dan masyarakat umumnya agar lebih menata kembali kehidupan dan berperilaku ramah lingkungan.

Melihat penderitaan yang dialami warga sekitar Merapi, muncul pemikiran dari Perkumpulan Akupunturis dan Akupresuris Pantura (PERANTARA) Jawa Tengah untuk menyumbangkan bantuan sesuai kemampuan mereka. Pada tanggal 18 November 2010 PERANTARA mengirimkan 22 tenaga Akupresur dan 2 tenaga logistik untuk melakukan pelayanan massal kepada para pengungsi di Klaten dan Sleman.

Melalui koordinasi dengan Organisasi Rakyat (ORA) Merapi, ORA Pereng, dan ORA Ngudi Makmur di Klaten, akhirnya Perantara bisa diterima dengan baik oleh para pengungsi. Sesuai jadwal yang disepakati, ada tiga tempat pengungsian yang menjadi lokasi pelayanan akupresur, yaitu di Poltekes Akbid Padurungan, Dodiklat Pur Rindan IV/ Diponegoro keduanya di Desa Danguran Kidul, Kecamatan Wedi dan di posko Plaosan, Kabupaten Klaten.

Berdasar data, jumlah pengungsi di Poltekes Akbid Padurungan ada 308 orang.  “Mereka berasal dari desa Sidorejo, Kemalang, dan Kendalsari,” kata Maswan, relawan ORA yang bertugas di posko tersebut. Di posko ini da 5 orang akupresuris yang bertugas memberikan pelayanan dan mendapat 22 pasien dalam waktu lebih kurang 1 jam.

Sementara di pengungsian Dodiklat Pur Rindan IV/ Diponegoro ada setidaknya 700 orang. Mereka antara lain berasal dari Desa Sidorejo, Bumiharjo, Tlogowatu, dan Kendalsari. Perantara menempatkan 10 akupresuris untuk melayani warga. Ada 21 orang yang berhasil dilayani, hal ini karena sebelumnya sudah ada pelayanan yang sama oleh ORA dari DIY.

Pelayanan akupresur di posko Plaosan bertempat di rumah salah satu warga yang menjadi tempat pengungsian. Ada 280 orang yang mengungsi di lokasi ini. Akupresuris yang melayani ada 7 orang ditambah 2 tenaga logistik yang mengantarkan bantuan sembako. Warga yang membutuhkan pelayanan akupresur ada 22 orang, mereka berasal dari Glagahrejo dan Balerante.

Usai pelayanan di Klaten, para relawan akupresuris ini selanjutnya meluncur ke tempat pengungsian lain di Sleman. Melalui koordinasi dengan Yakkum Emergency Unit (YEU), para akupresuris memulai pelayanan kepada pengungsi di Gereja Katolik Banteng. Dalam waktu lebih kurang satu jam, 22 akupresuris ini mampu melayani 95 orang dengan berbagai keluhan sakit. Meski permintaan dari sekitar 300 pengungsi masih banyak, namun pelayanan akupresur harus diakhiri karena tenaga akuprsuris sendiri terbatas.

Keluhan para pengungsi yang berhasil dilayani pijat akupresur antara lain tulang sendi nyeri, batuk-batuk, dada terasa nyeri. Banyak pula anak yang panas dan gatal-gatal. Selain itu, ada yang mengeluhkan masuk angin dan panas badan.

Berdasarkan cerita yang berhasil dihimpun tim redaksi, banyak masyarakat yang tidak terkena dampak Merapi ikut peduli terhadap para pengungsi. Bukan hanya memberi bantuan logistik berupa sembako, namun ada yang memberikan hiburan berupa wayang kulit, ketoprak, dangdut, jaranan/reog, barongan. Masing-masing kelompok secara bergantian menghibur para pengungsi agar tetap semangat dan tidak jenuh hidup di pengungsian.

Namun, ada pula cerita pilu yang diceritakan pengungsi di Dodiklat Pur Rindan yang merupakan pindahan dari pengungsian di Pemda Klaten. Pengungsi yang berasal dari beberapa desa di wilayah Kemalang itu pernah menyampaikan protes karena berbelit-belitnya aturan yang diterapkan Pemda bagi pengungsi untuk mendapatkan bantuan logistik.  Misalnya permintaan bantuan harus ada tandatangan Camat, baru bisa diberikan. “Saya tidak tahu alasannya apa, katanya logistik itu untuk cadangan pengungsi ketika sudah pulang ke desanya,” kata salah satu pengungsi. “Padahal logistik menumpuk di gudang, sedangkan kami sangat membutuhkan saat itu bukan saat sudah pulang,” keluhnya dengan nada sedih.

Meski demikian, Maswan, sebagai koordinator posko ORA di Klaten berharap pemerintah sudah memikirkan pasca mereka kembali ke rumah masing-masing. “Pemerintah harus memberi bantuan air bersih, bibit tanaman lokal yang hasilnya bisa dikonsumsi, misalnya pisang, dan juga bantuan makanan untuk ternak, seperti jerami, kosentrat, rumput,” kata Maswan. “Mudah-mudahan lahan bisa ditanami kembali walaupun abu vulkanik lumayan tebal,” harapnya. (Asih/ORA KTKB)

Posted on 3 April 2011, in Pengurangan Resiko Bencana. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. BRAVO PERANTARA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: