MODIN BELAJAR PEMULASARAN JENAZAH


DISKRIMINASI terhahadap ODHA tak hanya terajadi ketika masih hidup, namun ketika sudah meninggal masih sering terjadi stigma negatif dan diskriminasi yang berpengaruh terhadap kehidupan sosial dan psikologi keluarga yang ditinggalkan.

Penghapusan stigma negatif dan diskriminasi yang masih melekat dimasyarakat terhadap ODHA (orang dengan HIV&AIDS) merupakan pekerjaan rumah yang panjang dan butuh komitmen semua pihak.

Selain itu kegiatan preventif untuk menghindari perkembangan penularan juga harus terus dikampanyekan.

Fenomena diskriminasi dan cap buruk tersebut terjadi tidak mengenal batasan status, tingkat pendidikan, ekonomi serta budaya. Namun, orang dengan pendidikan tinggi, status sosial dan ekonomi mapan sering  terjadi stigma dan diskriminasi.

Hal tersebut terjadi karena minimnya informasi yang didapat tentang HIV&AIDS. Bahkan pada jenazah ODHA terkadang masih ada diskriminasi sehingga masyarakat enggan untuk mengantar dan mendoakan mereka, sehingga berakibat terhadap kehidupan sosial dan psikologi keluarga.

Padahal yang harus dilakukan oleh semua komponen adalah menjauhi penyakitnya bukan malah menjauh dari orangnya.

Berpijak dari fenomena tersebut, Organisasi Rakyat (ORA) mitra UPKM/CD RS Bethesda wilayah Jawa Tengah yang memang selalu komitmen terhadap penanggulangan HIV&AIDS mengadakan training motivator HIV AIDS.

Kegiatan yang digelar selama 3 hari mulai 24-25 Mei 2011 tersebut membidik kader ORA dan Modin (Kaur Kesra) sebagai peserta training, hal ini didasarkan pada kader ORA merupakan ujung tombak pembaharu dimasyarakat selain itu Modin yang merupakan tokoh dan juga aparat desa memegang peranan penting dimasyarakat yang sekaligus bertanggung jawab pada proses keagamaan salah satunya pada proses perawatan jenazah.

Peserta yang berasal dari 7 kabupaten di Jawa tengah berjumlah 26 orang terdiri dari Modin dan Kader ORA.

Kegiatan yang dibuka oleh AM UPKM/CD RS Bethesda Jateng diharapkan mampu mencetak kader motivator HIV AIDS diwilayah masing-masing. Dan untuk Modin dapat melaksanakan pemulasaran jenazah secara aman tanpa diskriminasi dan dapat memberi pengertian kepada masyarakat sehingga stigma dan diskriminasi dapat dihilangkan.

Training yang berlokasi dihotel Kurnia Pati menghadirkan narasumber yang sangat berkompeten dengan HIV&AIDS, antra lain dari KPA Jateng, RS. Suwondo Pati, RS Bethesda Yogyakarta, Semarang Plus untuk testimoni ODHA, dan dr. Iwan Setiawan dari Semarang.

Narasumber dari KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) Jawa Tengah mengungkapkan bahwa kasus HIV&AIDS sejak 1993 sampai  Maret 2011 berjumlah 3.555 kasus dengan HIV positif 1.964, AIDS 1.591 jiwa dan jumlah meninggal sebanyak 500 (31,43%).

HIV merupakan virus yang hidup dan berkembang dalam tubuh manusia yang sekaligus melemahkan sistem kekebalan tubuh, dan yang menjadi masalah sekarang belum ditemukan obat penyembuhnya.

Adapun obat yang ada yakni ARV hanya berfungsi untuk menekan virus HIV yang ada ditubuh sehingga tidak berkembang dengan cepat dan merusak kekebalan tubuh.

HIV dapat hidup dan menular lewat 4 macam cairan tubuh yaitu darah, cairan mani, cairan vagina, air susu ibu. Supaya dapat terhindar kita harus menghindari kontak antar cairan tersebut.

Penting diketahui bahwa HIV tidak ditularkan melalui kontak sosial, hidup serumah, berjabat tangan, makan bersama, berpelukan, terpapar bersin dan batuk dari penderita.

Gejala umum yang dialami pada penderita diantaranya diare berkepanjangan, demam, nafsu makan berkurang, sariawan dan berat badan menurun drastis hingga 10%. Apabila ditemukan gejala tersebut dan ada riwayat yang beresiko agar segera melakukan VCT (Voluntary Counseling and Testing).

Layanan VCT  menyediakan berbagai dukungan psikologis, memberikan pemahaman mengenai HIV AIDS, penyebab, perjalanan penyakit, pengobatan dan perawatan, VCT bersifat sukarela dan rahasia.

Mengenai pemulasaran jenazah disampaikan narasumber dari RS Bethesda yang menuturkan bahwa “prinsip dasar dari penanganan jenazah ODHA adalah sopan dan aman dari penularan”.

Materi unik yang belum banyak diketahui masyarakat mendapat sambutan antusias dari peserta.

Banyak kasus setelah ODHA meninggal, masyarakat sekitar maupun keluarga tidak berani untuk menyentuh, karena takut tertular dengan anggapan lebih mudah tertular, lebih banyak virus. Sebenarnya penanganan jenasah ODHA  dan penyakit menular harus dibedakan dengan jenasah pada umumnya.

Darah yang dikeluarkan oleh jenasah penyakit menular atau ODHA memang bisa  mentransmisi virus. Tetapi tidak semudah yang kita bayangkan. Misalkan tubuh kita ada luka mengeluarkan darah dan dalam pemulasaran jenasah darah jenasah ODHA masuk dalam luka kita, virus HIV bisa masuk dengan resiko sangat kecil. Virus HIV sendiri bila berada diluar tubuh manusia mudah mati terkena sinar matahari.

Dengan menggunakan alat pelindung standar untuk pemulasaran jenasah termasuk juga dalam upaya pencegahan.

Peralatan standar yang  ditetapkan RS Bethesda Yogyakarta untuk pemulasaran jenasah antara lain pakaian rompi plastik, penutup kepala, sarung tangan, masker, kacamata, scort (celemek plastic), dan sepatu boot. Untuk penggunaan sarung tangan diluar pakaian rompi sehingga darah jenasah tidak masuk ke pori kulit.

Dikalangan masyarakat pedesaan  penggunaan alat standar tersebut pastilah menimbulkan kecurigaan bahwa jenasah tersebut berpenyakit menular, untuk itu dibutuhkan pendekatan yang bersifat sebelum dan sesudah terjadi kasus.

Langkah antisipasi lain juga sangat diperlukan yakni sosialisasi pemulasaran jenasah sesuai standar diwilayah yang berisiko terdapat penyakit menular.

Dalam penutupan acara para peserta menyepakati beberapa hal tentang penanganan jenazah ODHA, yakni perlu koordinasi dengan keluarga, rumah sakit, petugas kesehatan dan kelompok dukungan, selain itu pada proses pemulasaran harus menggunakan peralatan standar dengan memperhatikan kearifan lokal diwilayah tersebut, dan Modin berkewajiban memberi pengertian kepada masyarakat tentang HIV&AIDS.

Mengetahui informasi yang tepat tentang pencegahan, penularan serta pengobatan merupakan langkah efektif untuk mencegah penularan dan menghilangkan stigma negatif yang terjadi dimasyarakat.

Penanggulangan HIV&AIDS merupakan tanggung jawab semua pihak. Peran serta masyarakat dalam penanggulangan HIV&AIDS sangat menentukan keberhasilan.

Bersosialisasi dan memperlakukan ODHA secara wajar merupakan harapan dan obat bagi mereka. (Dian Red)

Posted on 1 Juli 2011, in Penanggulangan HIV-AIDS. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: