KENALI DENGAN INFORMASI OBATI DENGAN PEDULI


Kusta/lepra atau penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae ini memang sudah tak asing ditelinga masyarakat umum karena menurut sejarah penyakit ini banyak mewabah dimasyarakat pada jaman penjajahan.

Seiring berjalannya waktu ada beberapa masyarakat menganggap bahwa penyakit ini sudah tidak ada lagi, namun sebenarnya penyakit ini masih banyak terjadi, sehingga masyarakat harus menjaga kebersihan dan dituntut untuk mengetahui informasi tentang kusta terutama gejala awal.

Gejala awal kusta memang agak mirip dengan penyakit kulit biasa yakni timbul berak kemerahan atau putih seperti panu, hanya saja yang membedakan kelainan kulit ini biasanya tidak gatal, tidak sakit dan cenderung mati rasa.

Karena gejala awal yang mirip penyakit kulit biasa, menyebabkan banyak kasus kusta baru diketahui oleh masyarakat kalau sudah masuk ketahap lanjut.

Seperti kasus yang dialami Sudir (40), dia adalah penderita kusta pertama yang ditemukan di Desa Wotan Sukolilo Pati,  awalnya dia dan masyarakat sekitar menganggap bahwa itu hanya penyakit gatal-gatal atau kadas biasa. Namun, karena tak kunjung sembuh dia memeriksakan diri ke bidan desa, setelah dianalisa  ternyata penyakitnya adalah positif kusta.

Karena sebelumnya dianggap penyakit kulit biasa sehingga tidak pernah mendapat pengobatan khusus, sehingga menular kepada orang lain.

Jumlah penderita penyakit kusta di Wotan sampai saat ini menjadi 9 orang, dengan kata lain desa Wotan menempati urutan pertama di Kecamatan Sukolilo dalam hal penyakit kusta, tentunya bukan peringkat yang membanggakan bagi warga Wotan.

Menurut data Puskesmas Sukolilo sejak 1998 hanya ditemukan 1 kasus namun, pada 2011 ini Wotan sudah menambah  8 kasus. “Baru 9 saja yang terdeteksi, belum yang tidak terdeteksi oleh petugas kesehatan”, kata Sukari menjelaskan”. Dari sembilan Kasus 3 orang sudah sembuh, 3 orang masih reaksi dan 3 orang lainnya menjalani pengobatan rutin.

Melihat fenomena ini, warga masyarakat Desa Wotan merasa khawatir, dan mulai berfikir bahwa penyakit ini harus segera ditanggulangi jangan sampai merembet ke warga lain, “ucap Suharjono sembari memotivasi masyarakat lainnya”. Hal ini disambut baik oleh masyarakat untuk melakukan pencegahan dengan cara memberi informasi.

23/4/11, Organisasi Rakyat AKUR bekerjasama dengan pemerintah Desa Wotan bekerjasama dengan UPKM/CD RS Bethesda Jawa Tengah, mengadakan penyuluhan penyakit kusta.

Kegiatan preventif  ini diadakan di Balai Desa Wotan yang diikuti lebih dari 50 orang terdiri dari pemerintah desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, termasuk penderita kusta itu sendiri.

Rasa haus informasi yang dirasakan peserta dilampiaskan pada narasumber Joko Winarno dari rumah sakit Kusta  Donorojo Jepara Jawa Tengah dan Puskesmas Sukolilo tentunya.

Sosialisasi yang bertujuan transfer informasi tentang kesehatan terutama kusta baik tentang gejala, pengobatan, pencegahan dan fasilitas yang disediakan pemerintah digelar pula di Desa Dringo  Todanan Blora oleh Organisasi Peduli Masyarakat (OPM) pada 29/4/11.

OPM menggelar kegiatan ini atas dasar terjadinya 2 kasus kusta di Dringo, dari kedua kasus tersebut salah satu penderita (SI) tidak mau melanjutkan pengobatannya.

Menurut Sholeh selaku  ambulan desa “awalnya dia itu mau menjalani pengobatan di Puskesmas”, tapi sekarang dia tidak mau lagi melanjutkan pengobatan itu, walaupun penyakitnya belum sembuh”, katanya melanjutkan.

Ketika dikonfirmasi, SI membenarkan yang dikatakan Soleh. Ditanya soal sikapnya itu, dirinya mengatakan ketakutannya untuk melanjutkan pengobatan. “setelah minum obat berkali-kali justru penyakit ini semakin menjadi-jadi”, kata pria yang tidak tamat SD itu.

Merasa tidak mampu lagi membujuk SI, Soleh bersama teman-teman ORA OPM bekerjasama dengan UPKM/CD RS Bethesda wilayah Jateng mengadakan penyuluhan kusta. Ia berharap dengan adanya penyuluhan, masyarakat, khususnya SI mendapat pemahaman yang benar dan utuh tentang penyakit kusta.

Acara yang mengambil lokasi di balai desa Dringo menghadirkan narasumber dari rumah sakit Kusta  Donorojo Jepara. dan dihadiri Staf UPKM/CD RS Bethesda Jateng  yang juga memberi sambutan.

Dalam sambutannya Anang mengatakan, “menangani penderita suatu penyakit tidak cukup hanya diserahkan kepada satu pihak saja, misalnya hanya bidan desa saja, melainkan memerlukan keterlibatan berbagai pihak, seperti tetangga, saudara dan kerabat, petugas Puskesmas, juga termasuk pengurus ORA tidak boleh ketinggalan”.

Sementara Joko Winarno dalam pembukaan materinya menuturkan, “tidak menutup kemungkinan keterlibatan penguasa juga diperlukan untuk kesuksesan penanganan pasien kusta”. Ia mencontohkan kasus yang terjadi pada SI, jika kesulitan yang dialami cukup berat, seyogyanya penguasa perlu turun tangan.

Dibagian lain, Winarno mengatakan penyakit kusta adalah sejenis penyakit menular menahun yang disebabkan oleh bakteri yang menyerang kulit, saraf tepi, dan jaringan tubuh lainnya. Kusta juga bukan penyakit keturunan, guna-guna atau disebabkan oleh makanan.

Ada 2 jenis penyakit kusta yaitu; kusta basah (multi basiler) dan kusta kering (pausi basiler).

Awalnya penderita tidak merasa terganggu, namun bila dibiarkan pada stadium lanjut dan belum mendapat pengobatan mengakibatkan cacat fisik, misalnya kelopak mata tidak dapat menutup rapat, mati rasa pada telapak tangan dan kaki, kelumpuhan pergelangan tangan dan jari, jari tangan kaki  keriting.

Penularan kusta terjadi dari penderita yang tidak diobati pada orang lain melalui pernafasan atau kontak kulit yang lama. Tidak semua orang dapat tertular penyakit kusta, hanya sebagian kecil saja + 5%.

Orang yang sudah tertular kusta pun sebagian besar dapat sembuh sendiri, jadi dapat dikatakan bahwa kusta adalah penyakit menular yang sulit menular.

Factor kurang gizi juga di duga merupakan factor penyebab. Menurut penelitian pada 100 orang terpapar, 95 orang tetap sehat, 3 orang sembuh sendiri tanpa diobati, 2 orang yang terkena kusta.

Kelompok yang berisiko tinggi terkena kusta adalah di daerah endemic dengan kondisi yang buruk seperti tempat tidur yang tidak memadai, air yang tidak bersih, asupan gizi yang buruk, dan adanya penyertaan penyakit lain seperti HIV yang dapat menekan system imun. Pria memiliki tingkat resiko kusta 2 kali dari wanita.

Yang jelas kusta dapat di sembuhkan, jadi jangan kawatir dan jangan di asingkan bila ada warga yang menderita penyakit kusta. (Musyafak/OPM& Sudiman /Red)

Posted on 14 Juli 2011, in Penanggulangan Penyakit Menular. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: