MERENUNG, BERFIKIR DAN BERTINDAK


Suasana gelap dan udara dingin menyelimuti pendopo rumah dinas Wakil Bupati Kudus pada Rabu (18/5/2011), itulah suasana yang sengaja dibangun oleh panitia Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN) 2011 yang digelar oleh Pusat Informasi  Kesehatan Masyarakat (PIKM).

Kegiatan yang rutin diadakan tiap tahun tersebut bertujuan untuk mengkampanyekan penanggulangan HIV-AIDS sekaligus menggugah kesadaran masyarakat maupun komponen lain agar lebih peduli dengan kasus yang tiap tahun terus meningkat tersebut, selain itu stigma dan diskriminasi yang masih banyak terjadi dimasyarakat agar bisa dikikis oleh para peserta yang hadir pada kegiatan renungan tersebut.

Kondisi  jalan becek karena guyuran hujan sore harinya, tidak menyurutkan antusiasme peserta untuk hadir dan mengikuti acara tersebut. Satu persatu peserta datang dari berbagai elemen masyarakat. Mulai dari pelajar, instansi pemerintah, mahasiswa, organisasi kepemudaan, LSM, waria, guru dan beberapa komunitas yang ada dikudus diantaranya pecinta motor vespa. Kehadiran peserta yang jumlahnya diluar prediksi menambah kuat semangat panitia penyelenggara,

Acara yang dimulai sekitar pukul 08.15 WIB diawali dengan petikan gitar akustis dari teman-teman Seni Kampus (SEKAM) Universitas Muria Kudus (UMK), dua lagu akustik yang berisi dukungan buat ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS) mampu menghipnotis peserta dalam suasana hening.

Dalam  keheningan acara disambung puisi yang seakan menghentak hati persembahan Triana dari IWAKU (Ikatan Waria Kudus) yang bercerita tentang kisah seorang pengidap HIV-AIDS karena pergaulan yang bebas serta proses bagaimana ia mulai terjangkit, kemudian hidup bergantung dengan ARV (obat untuk menjaga daya tahan tubuh untuk penderta HIV), dalam puisi tersebut juga bercerita bahwa derita yang sebenarnya bukanlah inveksi yang dialami namun diskriminasi dan perlakuan tidak adil dari masyarakat kepadanya yang mengantarnya pada kematian.

Alunan musik tata lampu mengantar aksi teatrikal yang memadukan gerak, suara, tari, body painting yang menggambarkan kisah gemerlapnya pergaulan yang bebas yang setiap saat mengundang resiko, baik dari sisi sosial, ekonomi maupun kesehatan. Selain itu aksi teatrikal juga menggambarkan kehidupan masyarakat sekarang yang terkesan glamor dan menganggap hal negatif misalnya seks bebas dan narkoba merupakan bagian trend dan gaya hidup modern, sehingga tanpa mereka sadari kesehatan dan masa depan mereka mulai terancam dari konsumsi narkoba, minuman keras hingga seks yang berisiko. Dengan gaya hidup seperti itu tanpa mereka sadari HIV bersarang dalam tubuh dan ahirnya adalah penderitaan penderitaan panjang.

Cahaya remang dari video dan alunan instrument mengiringi pemaparan Co Senior PIKM Faiq Yusron yang memvisualisasikan data kasus HIV-AIDS mulai kasus didunia, Indonesia, Jawa Tengah, sampai kasus di beberapa kabupaten di Pantura hingga mei 2011. Dari kasus yang dipaparan tersebut ternyata kasus penyebaran HIV masih tergolong tinggi. Faiq mengajak semua peserta untuk mulai merenung dengan kondisi dan fakta yang ada kemudian berfikir tentang jalan keluar serta bertindak sesuai kemampuan dan peran yang diambil guna bersama-sama menanggulangi penyebaran virus HIV agar tidak semakin meluas, khususnya pada generasi muda yang menjadi harapan bangsa.

Sebelum testimony (kesaksian) ODHA, di visualisasikan video tentang seseorang ibu rumah tangga dan anaknya yang HIV positif dari suami dan ayah yang sudah meninggal karena AIDS. Wanita ini bisa bangkit dari keterpurukan karena ditinggal oleh suami sekaligus mengetahui diri dan anaknya positif HIV untuk melanjutkan masa depan. Semangat ini tumbuh berkat dukungan keluarga masyarakat dan komunitas dukungan ODHA sehingga membuka pikirannya bahwa seorang ODHA pun bisa bangkit, berkarya dan berguna bagi orang lain seperti orang pada umumnya, bahkan pengabdiannya melebihi orang  sehat.

Renungan yang dihadiri lebih dari 100 orang tersebut dilanjutkan acara inti yakni testimony seorang wanita sekaligus  ibu dari gadis cilik dari Jepara. Perempuan yang juga positif HIV menceritakan kisahnya yang berawal dari pernikahannya pada 2008 silam dengan seorang laki-laki yang dicintainya, “saya tidak pernah mengetahui kehidupan malam, seks bebas, apalagi narkoba”. Kemalangan wanita ini dimulai pada bulan kedua usia perkawinannya yakni,  kematian suami yang  ternyata mengidap HIV-AIDS yang menular pada dirinya.“Sejak itu saya mengetahui awal mula saya terkena virus HIV yang ditularkan suami kepada saya. Suami diduga meninggal karena virus tersebut, setelah hasil tes keluar dan akhirnya dinyatakan positif” tutur narasumber tersebut “rasa hati saya tidak karuan, kenapa harus saya?” tambah dia  sembari mata berkaca.

Pada saat suaminya meninggal ibu tersebut dalam kondisi mengandung, namun karena dapat dideteksi sejak dini bahwa dia positif HIV, anak yang dilahirkan melalui bedah cesar dapat terhindar dari HIV setelah dilakukan VCT terhadap gadis kecil tersebut yang hasilnya negatif. Beda dengan ibunya yang sampai sekarang ini harus mengkonsumsi ARV untuk mempertahankan kondisi tubuhnya dari virus yang diidapnya.

Diawal kehidupannya sebagai ODHA yakni selama dua tahun dia dikucilkan oleh masyarakat sekitarnya, namun karena kegigihan, semangat hidup dan motivasinya untuk membesarkan anaknya maka dia mengisi hidupnya dengan kegiatan positif, selain aktivitasnya sebagai aktivis yang mendampingi anak dan ibu positif HIV AIDS, beliau juga mengembangkan bisnis makanan ringan berupa kripik.

Jadi sebenarnya HIV-AIDS bukanlah ahir dari segalanya namun dengan semangat, kemauan untuk hidup agar lebih bermanfaat dan dukungan dari masyarakat merupakan obat yang paling ampuh dalam memerangi HIV-AIDS.

Cahaya lilin diiringi alunan lagu “jangan menyerah” dan “lilin-lilin kecil” menutup Malam Renungan AIDS Nusantara, sembari bersalaman dan berpelukan antar peserta serta ODHA yang menjadi tamu pada malam tersebut menandakan acara telah berahir.

Ketua Panitia dari PIKM menutup dengan kalimat “Merenung, Berfikir dan Bertindak”, jadi renungan ini diharapkan menjadi awal untuk semua pihak untuk dapat berfikir dan bertindak dalam penanggulangan HIV-AIDS sehingga kasus bisa ditekan dan stigma negatif terhadap ODHA dapat dihilangkan yang sekaligus merangkul, memotivasi ODHA agar menjadikan hidup lebih berguna baik bagi diri dan masyarakat. (Udin/PIKM)

 

Posted on 14 Juli 2011, in Penanggulangan HIV-AIDS. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: